Pages

Saturday, February 18, 2012

Suara yang Paling Indah


Seorang tua yang tak berpendidikan tengah mengunjungi sebuah kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan yang terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern.
Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar semacam itu di dusunnya yang sunyi. Dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut. Dia mengikuti sumber suara sumbang itu, dan dia tiba di sebuah ruangan di belakang sebuah rumah, di mana seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.
“Ngiiik! Ngoook!” berasal dari nada sumbang biola tersebut.
Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan “biola”, dia memutuskan untuk tidak akan pernah mau lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut.
Hari berikutnya, di bagian lain kota, orang tua ini mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah ia mendengar melodi yang seindah itu di lembah gunungnya, dia pun mencoba mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah, di mana seorang perempuan tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya. Seketika, si orang tua ini menyadari kekeliruannya, suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik.
Dengan kebijaksanaan polosnya, orang tua itu berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun, apa pun kepercayaan mereka.
Namun, ini bukanlah akhir cerita.
Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut Anda, suara apakah itu?
Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada musim semi, melebihi indahnya suara angin musim gugur di sebuah hutan, melebihi merdunya suara burung-burung pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan hening pegunungan sunyi pada suatu malam musim salju. Suara apakah gerangan yang telah menggerakkan hati si orang tua melebihi apa pun itu?
Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.
Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, pertama, setiap anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing; dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni.
“Mungkin ini sama dengan agama,” pikir si orang tua. “Marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan. Marilah kita semua  menjadi maestro cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan penganut agama lain dalam sebuah harmoni!”
Itulah suara yang paling indah.
Sumber : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya oleh Ajahn Brahm.

Friday, February 10, 2012

Mendengarkan Dengan Tidak Bijaksana

Pada suatu sore, telepon berdering di wihara kami.
“Ajahn Brahm ada?” tanya si penelepon dengan tidak sabaran.
“Maaf,” jawab si perempuan Asia yang santun, yang kebetulan menerima telepon itu. “Beliau sedang beristirahat di kamarnya. Silakan telepon lagi setelah tiga puluh menit.”
“Hhhh! Dia akan mati dalam tiga puluh menit,” geram si penelepon lalu dia menutup teleponnya.
Dua puluh menit kemudian, ketika saya keluar dari kamar, si perempuan tua Asia ini duduk terpaku dengan wajah pucat pasi dan gemetaran. Yang lainnya berkerumun di sekitarnya, mencoba mencari tahu masalahnya, tetapi ia terlalu kaget untuk berbicara. Setelah saya membujuknya, dia bergumam, “Seseorang akan datang membunuh Anda!”
Saya tengah memberikan bimbingan kepada seorang pemuda Australia sejak dia dinyatakan positif mengidap HIV. Saya mengajarkan dia meditasi dan kiat-kiat bijaksana lainnya untuk menolongnya menghadapi penyakitnya. Sekarang dia sudah mendekati ajal. Kemarin saya baru saja mengunjunginya dan menunggu telepon dari pasangannya, kapan saja. Segera saja saya bisa mengira apa maksud telepon tersebut. Bukan saya yang akan mati dalam tiga puluh menit, melainkan si pemuda yang kena AIDS itu.
Saya bergegas ke rumahnya dan menemuinya sebelum dia meninggal. Untungnya, saya juga sempat menerangkan kesalahpahaman tersebut kepada si perempuan Asia sebelum dia ikut-ikutan meninggal, karena kaget!
Seberapa sering apa yang dimaksudkan dan apa yang kita dengar tidaklah sama?
Sumber : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya oleh Ajahn Brahm.

Friday, February 3, 2012

Belum Jelas Jangan Berprasangka Buruk

Y.A Maha Bhiksu Dutavira Sthavira (Suhu Benny) 
Dalam masyarakat, hubungan manusia dengan manusia lazimnya saling memberi nilai. Hal ini menjadi tidak baik, bila sebelum jelas, telah berprasangka buruk. Prasangka buruk dapat menimbulkan rasa sakit dan menderita, dapat melukai jiwa dan menghalangi keberuntungan hidup. Untuk itu, Suhu menyampaikan kisah nyata seorang veteran perang bernama Suryo (red: bukan nama sebenarnya) yang mengalami cedera di kakinya, sehingga cacat, dan ia harus menggunakan kursi roda serta berobat jalan. Untuk bepergian ia biasa diantar oleh istrinya.
Pada suatu hari Suryo harus ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin. Saat itu istrinya tidak dapat mengantarnya, maka ia memanggil taksi. Dari awal ia duduk, ia sering melihat pengemudi taksi itu mencuri pandang, seperti ada sesuatu yang aneh di dirinya. Karena berulang kali, timbul rasa khawatir dan jengkel di benaknya. Rasa antipati itu semakin berlebihan, karena jalan yang dilalui taksi itu berbeda dengan jalan yang biasa dilaluinya, jaraknya menjadi lebih jauh dan lama. Tiba di rumah sakit, argo taksi menunjukkan angka enam puluh ribu rupiah. Ia berpikir, seandainya pengemudi taksi menggunakan jalan yang diinginkannya, maka ia hanya membayar empat puluh ribu rupiah. Begitu emosinya, ia membayar dengan melempar uang ke kursi di samping pengemudi.
Dengan tenang tanpa ekspresi marah, pengemudi taksi mengambil uang itu, membantu Suryo turun dari taksi dan duduk di kursi roda, kemudian memasukkan uang itu ke saku baju Suryo seraya berkata, “Lain kali jangan lewat di jalan yang di sana, karena saat ini jalan tersebut rusak parah, Bapak akan merasa tidak nyaman dan sakit.” Dengan perasaan heran Suryo berkata, “Uangnya tidak diambil Pak?” Pengemudi taksi menjawab, “Melihat Bapak, saya teringat kepada mendiang ayah saya. Saat-saat terakhir hidupnya, beliau pun harus selalu duduk di kursi roda.” Suryo merasa sangat menyesal telah berprasangka buruk kepada orang yang demikian baik dan kisah ini diceritakan kepada Suhu.
Teman-teman se-Dharma, dalam perjalanan hidup ini banyak hal yang mudah menyebabkan timbul prasangka buruk terhadap orang yang telah atau baru dikenal, seperti melihat perbuatan atau sikap seseorang, saat berdiskursi dengan orang lain, dan lain-lain. Dalam kehidupan sehari-hari orang memiliki keinginan yang berlebihan atau pernah mengalami kegagalan dan timbul trauma di dalam diri, maka ia pun mudah merasa takut akan mengulangi kegagalan lagi, sehingga sering terjebak di dalam prasangka buruk. Untuk itu, ada beberapa hal yang ingin Suhu sampaikan :
  1. Bila timbul rasa curiga dan kuatir dalam diri Anda, atau Anda merasa diperlakukan tidak adil, dirugikan, dan lain-lain, carilah penjelasannya dengan bertanya baik-baik.
  2. Prasangka buruk dapat melukai batin dan merugikan diri sendiri, dapat menutup atau mengurangi keberuntungan hidup.
  3. Belajarlah untuk “berani mengalah” identik dengan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Karena benar menurut pemikiran Anda belum tentu dapat diterima oleh orang lain. Bayangkan bila dimanapun Anda berada, Anda selalu ingin menang, apakah Anda tidak menjadi orang yang egois dan mempunyai banyak musuh?
  4. Kekalahan dan kemenangan hanyalah permainan buah karma. Karenanya, lakukanlah yang terbaik untuk mencapai tujuan, selalu menanam sebab (karma) yang baik, tanpa memikirkan hasilnya. Biarkanlah proses karma berjalan dengan sendirinya. Bila karma baik Anda sudah cukup dan berlimpah, Anda pasti akan mendapat penghargaan (bukan kemenangan).
  5. Buddha bersabda : setiap manusia mempunyai empat kekuatan yang tersembunyi dalam batinnya: kekuatan kemauan, semangat, pikiran dan kesadaran. Gunakanlah semua itu secara optimal dan baik:
a.  Kemauan digunakan ke arah yang baik, seperti kemauan untuk tidak berprasangka buruk / positive thinking akan membawa berkah.
b.  Semangat dan ketekunan digunakan untuk mewujudkan kemauan yang baik dalam bentuk perbuatan nyata, seperti berani bertanya mengenai hal-hal yang belum jelas (perpaduan antara kekuatan kemauan dan semangat akan menimbulkan kepercayaan diri untuk melakukan perbuatan yang nyata).
c.     Gunakan logika untuk menyiasati masalah agar urusan besar menjadi kecil, kecil menjadi tiada.
d.  Gunakan kesadaran untuk menyadari situasi dan kondisi yang nyata. Bedakanlah antara “prasangka buruk” dengan “teliti dan waspada” terhadap perbuatan orang lain, waspada adalah berhati-hati, prasangka buruk adalah memvonis.
Semoga sumbangsih pikiran ini dapat memberikan keberuntungan hidup untuk kita bersama. Namo Amitofo_/I\_
Sumber : Pencerahan Batin oleh Y.A Maha Bhiksu Dutavira Sthavira (Suhu Benny).

Saturday, January 28, 2012

Dua Bata Jelek

Setelah kami membeli tanah untuk wihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang. Tidak ada bangunan di atas tanah itu, bahkan sebuah gubuk pun tak ada. Pada minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu-pintu tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kami mengganjal pintu-pintu itu dengan batu bata di setiap sudut untuk meninggikannya dari tanah (tak ada matras – tentu saja, kami kan pertapa hutan).
Biksu kepala mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu yang datar. Pintu saya bergelombang dengan lubang yang cukup besar di tengahnya, yang dulunya tempat gagang pintu. Saya senang karena gagang pintu itu telah dicopot, tetapi malah jadi ada lubang persis di tengah-tengah ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan bahwa sekarang saya tak perlu bangkit dari ranjang jika ingin ke toilet! Kenyataannya, ada saja, angin masuk melewati lubang itu. Saya jadi tak bisa tidur nyenyak sepanjang malam-malam itu.
Kami hanyalah biksu-biksu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang – bahan-bahan bangunannya saja sudah cukup mahal. Jadi saya harus belajar cara bertukang: bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan memasang batu bata, memasang atap, memasang pipa-pipa – pokoknya semua. Saya adalah seorang fisikawan teori dan guru SMA sebelum menjadi biksu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya “BBC” (Buddhist Building Company). Tetapi, pada saat memulainya, ternyata bertukang itu sangatlah sulit. Kelihatannya gampang, membuat tembok dengan batu bata: tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, tetapi sisi lainnya malah jadi naik. Lalu saya ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat lagi. Coba saja sendiri!
Sebagai biksu, saya memiliki kesabaran dan waktu yang saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok bata saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Saya itulah saya melihatnya – oh, tidak! – saya telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.
Saat itu, semennya sudah terlanjur terlalu keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi saya bertanya kepada kepala wihara apakah saya boleh membongkar tembok itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Saya telah membuat kesalahan dan saya menjadi gundah gulana. Kepala wihara bilang tak perlu biarkan saja temboknya seperti itu.
Ketika saya membawa para tamu pertama kami berkunjung keliling wihara kami yang baru setengah jadi, saya selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok bata yang saya buat. Saya tak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.
“Itu tembok yang indah,” ia berkomentar dengan santainya.
“Pak,” saya menjawab dengan terkejut, “apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”
Apa yang ia ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkenaan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, “Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus.”
Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu-batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, di bawah, di kiri, dan di kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu-batu bata yang bagus,  batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua bata jelek itu. Selama ini, mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah saya perbuat; saya terbutakan dari hal-hal lainnya. Itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya saya ingin menghancurkannya. Sekarang, saya dapat melihat batu bata-batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tak terlalu buruk lagi. Tembok itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung itu, “Sebuah tembok yang indah.” Tembok itu masih tetap berdiri sampai sekarang, setelah dua puluh tahun, namun saya sudah lupa persisnya di mana dua bata jelek itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu lagi.
Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah “dua bata jelek”? Berapa banyak di antara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita liihat diri kita hanyalah “dua bata jelek”? Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus – di atas, di bawah, di kiri, dan di kanan dari yang jelek – namun pada saat itu kita tak mampu melihatnya. Malahan, setiap kali kita melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada hanyalah kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya, kita benar-benar menghancurkan “sebuah tembok yang indah”.
Kita semua memiliki “dua bata jelek”, namun bata yang baik di dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menikmati hidup bersama pasangan kita. Ini kabar buruk bagi pengacara urusan perceraian, tetapi ini kabar baik bagi Anda.
Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan memberi tahu saya tentang rahasia profesinya.
“Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan,” katanya, “tetapi kami bilang ke pelanggan kami bahwa itu adalah “ciri unik” yang tiada duanya di rumah-rumah tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dolar!”
Jadi, “ciri unik” di rumah Anda, bisa jadi, awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yang sama, apa yang Anda kira sebagai kesalahan pada diri Anda, rekan Anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah “ciri unik”, yang memperkaya hidup Anda di dunia ini, tatkala Anda tidak lagi terfokus padanya.
Sumber : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya oleh Ajahn Brahm.

Sunday, January 22, 2012

Asal mula Chun Lian (Terhindar dari Kekuatan Jahat)

Setiap Tahun Baru Imlek, masyarakat China selain makan jiaozi (Chinese dumpling), membakar petasan, saling mengunjungi, dan mengucapkan selamat tahun baru, juga melakukan satu hal yang mencolok, yakni tie chun lian  atau menempelkan tulisan di sisi kiri dan kanan pintu rumah atau pintu gerbang.
Chun lian itu adalah sepasang tulisan di atas kertas merah. Maksud semula menempel chun lian adalah untuk mengusir hantu dalam rmah atau mencegah roh-roh jahat masuk ke dalam rumah atau suaru wilayah untuk menggangu anggota rumah atau warga.
Mengapa orang-orang di daratan China mempunyai keyakinan seperti itu?
Pada zaman dahulu, di sebelah timur laut negeri itu, ada sebuah hutan pohon persik di atas sebuah gunung. Pohon persik bermacam-macam ukurannya, ada yang kecil dan ada juga yang sangat besar. Di antara pohon persik yang ada di hutan itu, terdapat satu pohon yang sangat besar dan memiliki dua lubang pada batangnya. Di dalam dua lubang itu tinggallah kakak –beradik. Sang kakak bernama Shen Tu dan si adik bernama Yu Lei. Shen Tu dan Yu Lei bahu-membahu menjaga hutan pohon persik tersebut.
Di belakang hutan pohon persik ada sebuah lubang besar mirip sebuah sumur yang besar. Lubang itu dalam sekali dan dihuni berbagai siluman dan hantu. Umumnya mereka tidak berani keluar lubang dan masuk ke hutan pohon persik, karena ada dua penjaga yang sangat galak, yakni Shen Tu dan adiknya, Yu Lei.
Shen Tu dan Yu Lei sangat perkasa dan kuat, sampai-sampai binatang-binatang buas di gunung itu sangat takut terhadap mereka. Si harimau tua yang paling ditakuti oleh para siluman pun takut terhadap Shen Tu dan Yu Lei. Jika para siluman berani macam-macam mencuri buah persik, dengan cepat Shen Tu dan Yu Lei menangkap mereka dan membuangnya ke sarang harimau untuk jadi santapan lezat harimau-harimau gunung.
Para siluman dan hantu tidak pernah patah arang untuk mencari jalan agar bisa berbuat sesuka mereka. Suatu hari, ketua para hantu dan siluman, sebut saja Nenek Hantu, mengajak warganya untuk rapat. “Kita tidak boleh selamanya tinggal diam. Kita harus mencari jalan untuk bisa keluar dan melakukan apa yang kita suka,” katanya.
Para hantu dan siluman pun menyambut dengan gembira motivasi yang diberikan oleh Si Nenek Hantu. “Rupanya Nenek Hantu adalah motivator yang sangat ulung,” demikian pendapat mereka.
Lalu, seorang di antara mereka bertanya, “Jika Shen Tu dan Yu Lei mengejar kita, bagaimana?” Para siluman dan hantu, setelah mendenganr pertanyaan ini, dengan segera kembali putus harapan.
Akan tetapi, di tengah keputusasaan itu, seekor hantu cerdik berkata, “Begini, waktu Shen Tu dan Yu Lei tidur kita curi saja perlengkapan dan senjata mereka. Tanpa senjata itu mereka tak akan berdaya menangkap kita.”
“Usul yang sangat bagus. Jika terlaksana, pasti berhasil,” ujar seorang siluman.
“Tapi, siapa yang harus pergi mencuri perlengkapan dan senjata mereka?” tanya salah satu dari mereka. Tidak satu siluman dan hantu pun yang berani mengajukan diri. Mereka sangat paham akan kemampuan Shen Tu dan Yu Lei.
Tiba-tiba seekor hantu kecil pun mempromosikan diri, “Baik, baik, jangan khawatir, aku hantu paling kecil, mereka susah melihat aku. Biar aku yang pergi dan mencuri senjata mereka.”
Sementara itu, hari sudah larut malam, dan setelah memeriksa semuanya, Shen Tu dan Yu Lei pun tertidur. Si hantu kecil mulai beraksi dan masuk ke ruangan tidur Shen Tu dan Yu Lei. Hantu kecil itu agak takut juga, karena senjata itu ada di samping kepala Shen Tu dan Yu Lei. Namun, mengingat bahwa jika senjata tidak diambil mereka akan seterusnya merana, dengan tekad yang kuat ia mendekat dan mengambil senjata itu. Shen Tu dan Yu Lei tidak terbangun. Dengan bersemangat si hantu kecil pulang ke istana mereka. Teman-teman dan rekan sejawat pun menyambut dengan kegirangan.
“Ha-ha-ha... mereka tak akan berdaya menangkap kita lagi. Ayo, saatnya kita berpesta. Kita keluar sarang dan segera mengacaukan para penduduk desa.” Mereka dengan bangga menyambut gembira kebebasan mereka. Bahkan, para siluman pun berani bertindak untuk menganggu Shen Tu dan Yu Lei.
Shen Tu dan Yu Lei bersiap menangkap para siluman pengacau, tetapi tiba-tiba mereka sadar bahwa senjata mereka sudah hilang. Mereka mencoba mencari, tetapi tidak mendapatinya. Dari kejauhan terlihat si hantu kecil sedang bermain-main dengan senjata mereka.
Shen Tu tertawa sinis sambil berkata kepada adiknya, “Para siluman itu menyangka dengan membawa senjata itu maka kita tidak berdaya. Mereka salah, mari kita beri mereka pelajaran!”
Dengan segera Shen Tu dan Yu Lei pergi mengambil sebuah dahan dari pohon persik yang paling tua dan besar. Setelah itu mereka segera berlari ke arah para siluman. Para siluman pun mulai ketakutan. Namun, Nenek Hantu berkata, “Jangan takut! Senjata andalan mereka tidak ada di tangan mereka. Mereka bisa berbuat apa terhadap kita? Ayo kita teruskan pesta.” Mendengar ucapan Nenek Hantu, mereka pun merasa tenang.
Waktu Shen Tu dan Yu Lei datang, mereka semua malah tertawa sambil mengolok-olok, “Ha-ha-ha kalian datang ke sini mau ngapain? Apa mau cari senjata kalian? Sayang, senjata kalian sekarang sudah jadi milik kami.”
Namun, tanpa diduga, dengan cepat Shen Tu dan Yu Lei menghajar dan menangkap mereka. Dalam waktu singkat mereka semua diikat dan dilemparkan kembali ke lubang dalam sarang mereka.
Rupanya Shen Tu dan Yu Lei tetaplah jagoan meski senjata andalan tidak ada di tangan mereka. Para siluman dan hantu sangat ketakutan dan tidak berani lagi macam-macam  jika mendengar nama Shen Tu dan Yu Lei atau mengetahui keberadaan mereka di suatu tempat.
Sejak saat itu penduduk desa selalu menggunakan dua lembar kertas yang terbuat dari bahan pohon persik. Pada kertas itu ditulis nama Shen Tu, dan Yu Lei pada kertas lain. Kedua kertas itu lalu ditempelkan di sebelah kiri dan kanan pintu rumah atau gerbang. Kalau tahu ada dua nama yang menakutkan itu, para siluman dan hantu tidak akan berani datang mengganggu. Itulah kisah mengapa orang membuat chun lian.
Pada zaman Dinasti Ming (1369-1644 Masehi) di kota Nanjing, ditetapkan bahwa di setiap rumah penduduk harus ada chun lian dari kertas merah di setiap pintu rumah dan gerbang. Tentu chun lian tidak lagi semata bertuliskan nama Shen Tu dan Yu Lei, namun boleh bermacam-macam tulisan hikmat atau berkat. Kertas merah itu sudah menjadi lambang Shen Tu dan Yu Lei, serta tulisan di atasnya bisa jadi adalah kata-kata mutiara atau harapan yang oleh seisi rumah diharapkan bisa terjadi pada tahun baru.
Moral Cerita :
Pasti ada kekuatan yang bisa menolong kita untuk tidak diganggu atau dicelakai oleh roh-roh jahat. Pasti ada cara yang bisa menolong untuk mengatasi semua gangguan atau masalah dalam kehidupan kita.
Gong Xi Fa Cai
Wan Shi Ru Yi
Shen Ti Jian Kang

Friday, January 20, 2012

Jiu Niu Yi Mao : Sembilan Sapi Kehilangan Satu Bulu

Bunuh Diri adalah Sia-sia
Pada zaman Dinasti Han, saat Raja Han Wu Di berkuasa, di China bagian utara, ada satu suku yang bernama Xiong Nu. Tentara mereka sering mengacaukan dan membuat masyarakat resah. Mereka sering mengganggu untuk merongrong kewibawaan Raja Han Wu Di.
Karena sudah begitu keterlaluan tingkah laku mereka, Raja pun menugaskan Li Ling, seorang panglima tentara kerajaan untuk mengatasi suku Xiong Nu. Li Ling dan pasukan yang dipimpinnya adalah orang-orang pilihan yang sangat ahli dalam bertempur. Karena itu, begitu mendapat tugas resmi dari Raja, mereka segera menyerang tentara suku Xiong Nu dan mengalahkan mereka. Sebagian yang lari dikejar sampai dapat dan Li Ling sungguh-sungguh menghancurkan kekuatan tentara Xiong Nu. Setelah beberapa waktu, rakyat pun tidak resah lagi.
Raja sangat gembira karena Xiong Nu tidak mengganggu dan meresahkan rakyat lagi. Raja juga kagum akan kehebatan Li Ling dan pasukan yang dipimpinnya. Para menteri pun datang mengucapkan selamat kepda Raja. Mereka terutama mengucapkan selamat atas keputusan Raja memilih Li Ling untuk menghancurkan kekuatan Xiong Nu.
Tanpa diduga, Xiong Nu membangun kekuatan baru dan merancang strategi yang matang untuk menyerang Li Ling dan pasukannya. Mereka pun datang secara tiba-tiba ketika Li Ling dan pasukannya dalam keadaan tidak siap. Tidak berapa lama, pasukan Xiong Nu dapat mengalahkan pasukan Li Ling.
Raja sangat geram dan khawatir mendengar bahwa pasukan andalannya dapat dikalahkan oleh Xiong Nu. Segera ia mengumpulkan para menteri untuk mengadakan rapat khusus. Para menteri yang dulu mengagumi keputusan Raja karena memilih Li Ling kini balik menyesalkan keputusan Raja dan mereka pun mengumpat-umpat Li Ling. “Li Ling itu tidak dapat dipercayai, sudah diberi kekuasaan khusus oleh Raja ternyata sama sekali tidak berdaya. Lagipula begitu mudah dikalahkan, sehingga membuat kerajaan kita dipermalukan. Lebih baik Tuanku Raja membawa seluruh anggota keluarganya ke sini dan dihukum mati satu per satu sebagai imbalannya yang tidak dapat dipercayai. Kita perlu lakukan ini supaya di kemudian hari orang yang dipercayai sungguh-sungguh bertanggung jawab dalam menjaga keamanan negara.”
Di antara para menteri ada pejabat bawahan namanya Si Ma Jian. Si Ma Jian tidak terima dengan usulan itu lalu angkat bicara, “Baginda Raja, pasukan yang dipimpin Li Ling hanya berjumlah lima ribu tentara, sedangkan pasukan Xiong Nu jumlahnya enam belas kali lipat lebih banyak. Jadi, kekalahan adalah hal yang wajar. Lagi pula sebelum kalah, ia sudah membunuh ribuan rentara musuh. Dan, jika tampat ia menyerah, mungkin ia punya strategi lain untuk di kemudian hari benar-benar bisa menumpas musuh. Saya ini teman baik Li Ling, saya kenal dia. Mengatakan bahwa dia tidak berdaya itu tidak adil, apalagi harus membawa seluruh keluarganya dan membunuh mereka satu per satu!” Raja geram terhadap pernyataan itu lalu segera memasukan Si Ma Jian ke dalam penjara.
Pada tahun berikutnya, Xiong Nu menyebarkan berita bahwa Li Ling sudah berlatih serius untuk menjadi tentara andalan Xiong Nu. Berita ini membuat Raja semakin gusar dan ia segera membunuh ibu Li Ling. Lalu Raja juga memanggil Si Ma Jian dan berkata, “Kamu bilang Li Ling pura-pura menyerah, apakah kamu tahu kalau sekarang ia sudah menjadi bagian penting dari tentara musuh?” Raja lalu menjebloskan Si Ma Jian ke dalam penjara yang paling buruk dan disiksa setiap hari. Karena tidak tahan terhadap semua siksaan tersebut maka Si Ma Jian berniat bunuh diri. Namun, segera ia berpikir bahwa ia bukanlah orang penting dalam kerajaan. Jika ia bunuh diri pasti tidak ada pengaruh apa-apa. Jika mati secara demikian, aku seperti sembilan sapi kehilangan satu bulu (jiu niu yi mao), tidak ada artinya. Aku harus melanjutkan hidup dan membuat hidup jauh lebih berarti dan berguna bagi negara ini. Demikianlah ia menahan semua siksaan dalam penjara. Setelah melewati waktu tertentu, ia dibebaskan dan bertekun menggapai sukses. Ia akhirnya menjelma menjadi seorang pemikir yang sangat membantu kerajaan Xi Han.
Di kemudian hari Jiu Niu Yi Mao menjadi sebuah ungkapan China yang terkenal untuk menggambarkan sesuatu yang kurang penting atau tiada guna.
Moral Cerita :
Bunuh diri adalah mati yang tiada guna. Lebih baik berani hidup menghadapi susah daripada mati dengan tidak berarti. Jika orang mau melihat masa depan yang baik, ia tidak boleh mudah menyerah dan putus asa.

Popular Posts