Thursday, January 5, 2012
Orang Tua vs Anak
Seorang kakek berumur 90 tahun duduk di sofa bersama putranya yang terpelajar, berusia setengah baya. Tiba-tiba seekor burung gagak terbang dan bertengger di jendela.
“Apa itu?” tanya kakek tersebut.
“Burung gagak,” jawab anaknya.
Beberapa menit kemudian, si ayah kembali bertanya lagi kepada anaknya, “Apa itu?”
Si anak berkata, “Ayah, tadi saya baru bilang, itu burung gagak.”
Sebentar kemudian, kakek itu kembali bertanya untuk ketiga kalinya.
“Apa itu?”
Kali ini, si anak jadi kesal dan menjawab gusar, “Itu burung gagak, burung gagak, burung gagak.”
Selang beberapa saat, kakek itu bertanya lagi untuk keempat kalinya, “Apa itu?”
Kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran. Dengan setengah membentak, ia bertanya, “Mengapa Ayah terus menanyakan hal yang sama terus-menerus? Saya sudah bilang berkali-kali, ‘Itu burung gagak’. Apakah Ayah tidak bisa lagi mengerti?”
Tanpa menjawab, kakek itu pergi ke kamarnya dan kembali dengan sebuah buku harian usang yang ditulisnya sejak anaknya lahir. Ia lalu membuka satu halaman dan meminta anaknya membaca halaman itu.
“Hari ini, putra cilikku yang berumur 3 tahun duduk di sofa. Tiba-tiba seekor burung gagak terbang mendekat dan bertengger di jendela. Putraku bertanya 23 kali apa itu. Dan saya jawab 23 kali bahwa itu burung gagak. Saya memeluknya setiap kali ia menanyakan pertanyaan yang sama, lagi dan lagi sebanyak 23 kali. Sama sekali tak ada rasa jengkel. Yang terasa justru kasih sayang kepada putraku yang belum mengerti apa-apa.”
Ketika putra ciliknya bertanya 23 kali, apa itu, pria tersebut sama sekali tidak marah dan menjawab 23 kali dengna jawaban yang sama. Tapi, ketika pria itu bertanya 4 kali pertanyaan yang sama kepada anaknya, si anak jengkel dan marah.
Moral Cerita :
Jika orangtua sudah lanjut usia, jangan tolak mereka dan menganggap mereka sebagai beban. Bicara kepada mereka dengan kata-kata baik, tenang, sopan, dan manis budi. Beri perhatian dan kasih sayang kepada mereka.
Mulai hari ini katakan atau janji kepada diri sendiri, ‘Saya ingin lihat orangtua saya bahagia untuk selamanya. Mereka telah mengasih dan mengasuh saya sejak bayi. Mereka selalu melimpahi saya dengan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Saya berjanji akan belajar sabar seperti orangtua saya sabar dengan saya ketika kecil. Mengucapkan kata-kata manis seperti yang selalu dilakukan mereka ketika saya tidak mengerti.’
Labels:
Dhamma,
Mahayana,
wise stories
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Popular Posts
-
Janganlah berbuat jahat Tanamlah sebanyak-banyaknya kebajikan Sucikan hati dan pikiran Itulah ajaran para Buddha Membunuh dan kar...
-
Pada suatu hari saat Sang Buddha berdiam di Anatapindika Jetavana Arama, pada waktu itu Ananda bertanya : Mengapa nasib /akibat Karma se...
-
Semasa hidup Sang Buddha, kota Savatthi merupakan ibukota kerajaan Kosala yang diperintah oleh Raja Pasenadi Kosala. Beliau, putra Maha ...
-
Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar mama dan papa berbicara tentang adik kecilnya, Georgi. Georgi sakit keras dan mereka...
-
Pada suatu hari di sebuah kota kecil di Taiwan, seorang supir taksi yang sedang dalam perjalanan pulang ketika dia mendengar suara menakutka...
-
FYI, trenggiling adalah binatang pemakan serangga, terutama semut dan rayap. Seorang pejabat Tiongkok beserta beberapa kolega, ketika...
-
Lanjut lagi jalan-jalan ke Belitung - Day 3 Dari hari pertama liatnya pantai dan laut, sekarang mari kita jelahahi pesona lain di Pulau B...
-
Sebuah Renungan Motivasi Sumber foto : http://wishesmessages.com/thank-you-messages-for-dad-thank-you-notes-for-father/ Pada detik-de...
-
Saya ingin berbagi cerita pendek yang menurut saya sungguh menyentil sanubari kita, terutama untuk orang Indonesia. Cerita ini saya dap...
-
Alkisah, di suatu daerah terpencil hiduplah seorang ibu & anak gadisnya yang tunggal. Ibu ini sangat bersyukur karena mempunyai an...
No comments:
Post a Comment
please leave your comment...^^