Pages

Monday, May 18, 2015

Patriarch ke-6 Ven. Hui Neng (第六祖惠能大師)

Master Hui Neng adalah seorang dari daerah Xin Zhou (嶺南新州人) karena itu sering disebut sebagai orang barbar (suku yang direndahkan). Pada malam saat menjelang kelahirannya tiba-tiba di rumah kedatangan dua orang bhiksu yang tidak dikenal. Ternyata memang dari kecil Hui Neng sudah mempunyai jodoh dengan Buddha. Mereka datang dengan maksud memberikan nama kepada anak dari tuan rumah yang akan lahir. Nama pemberian dua orang bhiksu tersebut adalah Hui Neng (上惠下能), yang berarti akan menyebarkan dharma untuk kebahagiaan semua makhluk dan mampu melaksanakan pengembangan Buddha Dharma. Namun sayang sang ayah meninggal dunia saat dia kecil. Akhirnya beliau yang bekerja sebagai pemotong kayu di hutan untuk kemudian dijual demi membahagiakan ibundanya.

Suatu hari sesudah Master Hui Neng menjual kayu seperti biasanya, tiba-tiba di tengah perjalanan pulang beliau mendengar seorang yang sedang membaca Sutra Intan  (Jīn gāng jīng/ 金刚经) :“應無所住,而生其心……” (seharusnya tidak ada sesuatu yang dilekati, karena muncul dari perasaan saja >>> jangan pernah terpaku pada objek apapun karena segala baik, buruk, suka dan tidak suka hanya dari dalam perasaan saja).

Seketika beliau tercerahkan. Ternyata orang yang membacakan Sutra Intan tersebut pernah belajar di Dong Chan Monastery (東禪寺), tempat Master Zen ke-5 Ven.Hong Ren memberikan bimbingan Dharma kepada umat Buddha. Maka Hui Neng memutuskan akan mencari Master Hong Ren untuk belajar Dharma darinya. Setelah mendapatkan persetujuan dari ibundanya beliau segera melakukan perjalanan. Setelah melakukan perjalanan selama 30 hari beliau akhirnya sampai di Dong Chan Monastery (蘄州黃梅縣東禪寺), segera menghadap Master Hong Ren.

“ Siapa kamu, apa tujuanmu datang kesini?”
“Murid adalah seorang dari Xin Zhou, datang menghadap guru untuk belajar menjadi Buddha.”
“Berarti kamu adalah seorang barbar, bagaimana bisa menjadi Buddha?”
“Manusia memang ada perbedaan utara dan selatan, namun apakah benih ke-Buddha-an juga ada perbedaan?”

Master Hong Ren melihat kebijaksanaan Hui Neng memang sangat tinggi. Untuk menghindari agar tidak timbul orang yang iri kepadanya maka beliau menugaskannya di dapur untuk mengerjakan pekerjaan dapur, memotong kayu dan menggiling padi. Sampai pada suatu hari Master Hong Ren mengumpulkan para muridnya untuk memberikan tugas kepada mereka. Bagi semua murid wajib membuat sebuah gatha (puisi) yang akan membuktikan bahwa mereka telah mencapai pencerahan. Bagi yang memang sudah mencapai pencerahan maka dari gatha tersebut akan tampak bahwa orang yang membuat telah mampu melihat dasar dari ajaran gurunya. Yang kemudian sang guru akan mewariskan jubah dan patra Zen kepadanya yang berarti juga menjadi leluhur Zen ke-6. Diantara begitu banyak muridnya hanya Master Shen Xiu (神秀大師) yang mempunyai kebijaksanaan menonjol, dan diunggulkan akan menjadi penerus jubah dan patra Zen. Maka semua murid tidak ada satupun yang mau membuat gatha. Karena tahu hanya dia yang pasti membuat gatha, maka untuk menghindari agar orang lain tidak menganggapnya mendapatkan jubah dan patra Zen secara tidak semestinya Master Shen Xiu menulis gatha dari buah pemikirannya di dinding selatan vihara tempat dimana sang guru, Master Hong Ren pasti akan melewatinya di pagi hari.
Gatha tersebut adalah :

身是菩提樹    Shēn shì pútí shù
心如明鏡臺    Xīn rú míngjìng tái
時時勤拂拭    Shíshí qín fúshì
莫使惹塵埃    Mò shǐ rě chén'āi

"Tubuh adalah pohon bodhi,
hati laksana cermin yang berbingkai,
setiap saat rajin membersihkannya,
jangan biarkan debu  menempel."

Master Hong Ren menganggap gatha tersebut tidak mencerminkan Shen Xiu telah mencapai pencerahan, (mungkin karena beliau menganggap itu hanyalah pelatihan diri menjaga kemurnian sila dan pelatihan diri. Sedangkan Zen mengajarkan kita untuk bereksplorasi terhadap diri 明心見性 dengan hati yang terang maka akan melihat Buddha dalam diri kita. Dengan demikian maka seseorang baru bisa mencapai pencerahan) melainkan hanya sampai pada pintu gerbang pelatihan diri.
Kemudian pada hari berikutnya saat mendengar seorang sedaang melafalkan gatha tersebut Hui Neng segera memintanya untuk mengantarkannya ketempat gatha tersebut ditulis.

Meskipun bukan seorang cendekiawan bahkan huruf saja tidak mengerti namun Master Hui Neng mengetahui dengan jelas bahwa sang pembuat gatha belum mencapai pencerahan. Maka beliau segera memohon seseorang untuk membantunya menulis gatha :

菩提本無樹    Pútí běn wú shù
明鏡亦非臺    Míngjìng yì fēi tái
本來無一物    Běnlái wú yī wù
何處惹塵埃    Hé chù rě chén'āi

“Bodhi (pencerahan) sebenarnya tidak berpohon,
cermin yang bening juga tidak berbingkai,
karena pada awalnya memang tidak ada apapun,
bagaimana bisa terkotori oleh debu?”

Gatha tersebut memperlihatkan sebuah sifat asli dari sebuah kekosongan, sifat kebodhian pada awalnya bukan bersih bukan pula tidak bersih, namun hanya karena adanya proses perubahan maka kebodhian tersebut menjadi tidak tampak karena adanya kekotoran duniawi. Namun jika kita tetap bereksplorasi diri dan terus melihat ke dasar diri kita maka sebenarnya kebodhian ada di dalamnya. Maka meskipun kotor tetap ada yang bersih, bagi orang yang berusaha membersikan hati dan melihat sifat asli 明心見性.
Melihat gatha tersebut Master Hong Ren sempat kaget, namun demi menjaga agar tidak ada yang iri pada Hui Neng maka dia segera menghapus gatha tersebut dan mengatakan orang yang menulisnya belum mencapai pencerahan. Kemudian secara diam-diam Master Hong Ren menjenguk Hui Neng di tempat kerjanya, kemudian mengetuk tongkat di tanah sebanyak 3 kali yang berarti meminta Hui Neng datang menemuinya paa pukul 3 pagi.

Pada malam itu pula Hui Neng datang menepati janji. Master Hong Ren membabarkan Sutra Intan / Jin Gang Jing kepadanya dan mewariskan jubah dan patra Zen kapadanya, maka Ven. Hui Neng  yang kemudian menjadi patriarch ke-6 Zen. Setelah itu sang guru mengantarkannya menyeberang sungai dan menuju ke selatan. Keesokan harinya mendengar jubah dan patra sudah diwariskan kepada Hui Neng maka para murid segera mengejarnya. Hanya salah seorang dari mereka yang menemukan Hui Neng, namun dia tidak mampu mengangkat jubah dan patra tersebut untuk dibawa pulang . Dia sadar Hui Neng yang berhak atas jubah dan patra tersebut.

Hui Neng terus berjalan, sampai pada suatu hari beliau menginjakkan kaki di Guang Zhou Fa Xing monastery. Pada saat itu Ven. Yin Zong (印宗法師) sedang berceramah tentang Parinirvana Sutra (涅槃經). Tiba-tiba dua orang bhiksu berdebat saat melihat bendera. Apakah panji-panji (bendera) yang bergerak ataukah angin yang bergerak. Hui Neng berkata :

“Bukan angin yang bergerak, bukan pula bendera yang bergerak, namun pikiran Andalah yang sedang bergerak.”

Mendengar kata-kata tersebut Ven. Yin Zong segera mengundangnya untuk berbicara, dan setelah Ven.Yin Zong mengetahui bahwa dia adalah Master Zen ke-6 kemudian memohonnya sebagai guru. Akhirnya meskipun Ven.Yin Zong yang mencukur rambut Ven. Hui Neng namun kemudian dia berbalik menjadikan Ven. Hui Neng sebagi gurunya. Dengan demikian ajaran Zen dibawah Master Hui Neng berkembang pesat menjadi 5 sekte (一花開五葉) seperti yang telah diramalkan Master Bodhidharma dalam gathanya :

“我本來此土,傳法度迷津。一花开五叶,结果自然成。”

Ternyata memang Zen yang dibawa oleh Master Bodhidharma dari India , pada masa Ven. Hui Neng berkembang pesat dan menjadi 5 sekte besar, setelah itu tidak ada lagi pewarisan jubah dan patra zen. Dengan sendirinya Zen mengalir deras sampai ke seluruh belahan dunia. Kini tubuh sarira dari Master ke-6 Zen Ven. Hui Neng masih utuh dan disimpan di Nan Hua monastery (廣東韶關南華禪寺)

Dari kisah ini kita tahu bahwa setiap manusia memiliki sifat ke-Buddha-an. Setiap manusia ingin terbebas dari penderitaan mencapai kebahagiaan. Sifat ke-Buddha-an tidak bisa dilihat dari fisiknya saja.  Meskipun berbeda kulit dan pakaian bahkan kebiasaan namun setiap manusia memiliki benih ke-Buddha-an seperti yang dikatakan oleh Hui Neng : "Meskipun ada laki-laki dari utara atau selatan, utara dan selatan tidak membuat perbedaan sifat ke-Buddha-an mereka. Seorang Barbar secara fisik memang berbeda, tetapi tidak untuk perbedaan sifat ke-Buddha-an.

Dari kisah ini kita bisa belajar dari Sutra Intan  (Jīn gāng jīng/ 金刚经) yang terdiri dari 32 bab. Dalam bab ke-8 dikatakan:

 依法出生分第八

“须 菩提!于意云何?若人满三千大千世界七宝以用布施,是人所得福德,宁为多不?

”须菩提言:“甚多,世尊!何以故?是福德即非福德性,是故如来说福德多。”

“若复有人,于此经中受持,乃至四句偈等,为他人说,其福胜彼。何以故?须菩提!一切诸佛,及诸佛阿耨多罗三藐三菩提法,皆从此经出。须菩提!所谓佛法 者,即非佛法。”

Yī fǎ chūs hēng fēn dì bā

“xū pú tí! Yú yì yún hé? Ruò rén mǎn sān qiān dà qiān shì jiè qī bǎo yǐ yòng bù shī, shì rén suǒ dé fú dé, níng wèi duō bù?”
Xū pú tí yán: “Shén duō, shì zūn! Hé yǐ gù? Shì fú dé jí fēi fú dé xìng, shì gù rú lái shuō fú dé duō.”
“Ruò fù yǒu rén, yú cǐ jīng zhōng shòu chí, nǎi zhì sì jù jì děng, wèi tā rén shuō, qí fú shèng bǐ. Héyǐ gù? Xū pú tí! Yī qiè zhū fú, jí zhū fú ā nòu duō luō sān miǎo sān pú tí fǎ, jiē cóng cǐ jīng chū. Xū pú tí! Suǒ wèi fó fǎ zhě, jí fēi fó fǎ.”

“Subhuti! Bagaimana pendapatmu, kalau seseorang memenuhi jutaan dunia dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana-amal, apakah pahala dan kebajikan yang diperolehnya banyak?”
Subhuti menjawab: “Banyak sekali, Yang Dijunjungi! Mengapa begitu? Sebab pahala dan kebajikan itu bukanlah pahala dan kebajikan sejati sifatnya, oleh karenanya Tathagatha mengatakan pahala dan kebajikannya sangat banyak.”

“Dilain pihak, jika ada seorang lainnya menerima Sutra ini dan menjalankannya dengan tekun sekalipun hanya pada 4 bait gathanya saja atau mengajarkannya kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan melebihi orang yang terdahulu. Apakah sebabnya? Subhuti, semua Buddha dan jalan yang ditempuh untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berasal dari Sutra ini. Subhuti, apa yang disebut sebagai Buddha Dharma itu pada hakekatnya bukanlan Buddha Dharma.”

Kita tahu Ven. Hui Neng mencapai pencerahan dengan belajar dari sutra Jīn gāng jīng dan dalam bab ke-8 juga dikatakan “Semua Buddha dan jalan yang ditempuh untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berasal dari Sutra ini." Betapa besar manfaat dari membacakan sutra ini, mari kita pelajari sutra ini.


Dibagikan oleh : Nava Catvarimsa Virya (四十九振) dalam Mahayana TS.
Digubah oleh : Krystella.

Tuesday, March 18, 2014

"Kasih Sayang Seorang Ibu Tanpa Batas dan Tanpa Syarat"


Alkisah, ada sepasang kekasih yang hidup saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya raya dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tersebut. Sebagai orang yang terpandang di kota tersebut, latar belakang wanita tersebut akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat patuh pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orangtuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga menjadi stress karena gagal membujuk anak satu-satunya agar berpisah dengan wanita tersebut yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang orangtua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar dan orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu, dalam hati kecilnya ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

Detik .. Menit …. Jam …. Hari …. Minggu ……Tahun …..… Tak terasa Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga. Malamnya, ia menyuci pakaian-pakaian tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.

Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari obat-obatan herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya, ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat.

Hujan lebat pun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu.

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius. Ternyata, bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan tersebut. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri 'kan?”. “Saya tidak mencuri, Kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah,” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tersebut.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab. “Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tersebut heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik,” kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”

“Tidak Bu, saya yang bersalah”

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang orangtua sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan. Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama-sama dengan Ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk Ibu. Nanti, Ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu,” teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.”

“Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi,” sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sedu “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu-satunyanya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga……….

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tersebut, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut, menangis “Ibu benar-benar tidak menginginkan saya lagi.”

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tersebut. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut anaknya dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya. Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tersebut. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tersebut untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling-guling jatuh ke bawah.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana-mana, tetapi hasilnya nihil. Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tersebut terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit. Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu.

Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”. Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tersebut saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi. Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.

=========================

Perenungan untuk kita renungkan bersama-sama :

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang-orang disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ………..

Tidak diragukan lagi “Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini”. Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ?

Ada 2 tindakan yang dapat Anda lakukan :

1. Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah ia untuk keluar makan atau jalan-jalan MALAM INI JUGA. Jangan ditunda-tunda. Bila Ibu Anda tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda, telponlah dia malam ini juga, just to say “hello”. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan, dan bahagiakanlah dia semampu Anda. Hidangkan makanan favoritnya, dan seterusnya.

2. Kirimkan kisah ini kepada saudara/i Anda, teman-teman Anda, maupun rekan-rekan kerja Anda. Bagi sebagian dari mereka, kisah ini mungkin akan seperti setetes embun yang menyegarkan jiwa mereka, yang terkadang terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Anda sungguh berjasa dalam hal ini.

Semoga Semua Ibu Di Dunia Berbahagia Selalu. _/I\_

Di Kutip Dari Artikel “Shi Sang Chi You Mama Hau”

sumber : SL-Books

世上只有妈妈好
Shìshàng zhǐyǒu māmā hǎo
Di dunia ini hanya ibu yang terbaik
有妈的孩子像个宝
Yǒu mā de háizi xiàng gè bǎo
Anak yang memiliki ibu bagaikan harta
投进妈妈的怀抱
Tóu jìn māmā de huáibào
Berada dalam pelukan ibu
幸福享不了
Xìngfú xiǎng bùliǎo

Sungguh bahagianya

Monday, August 26, 2013

Customer Adalah Raja???


Alkisah, di San Francisco, ada seorang konsultan yang heran melihat keramaian sebuah Chinese restaurant. Maka suatu hari, ia mencoba makan siang di sana. Seperti biasa, restoran itu ramai sekali dengan pengunjung.

Seorang pelayan dengan ramah menghampiri dan melayaninya, walaupun dengan bahasa Inggris yang belum fasih. Sang konsultan memesan Orange Chicken with Rice dan minuman Coke Zero. Namun pelayan tersebut berkata, “Maaf, kami sedang ada kerja sama dengan Pepsi. Jadi, tidak bisa jual produk Coca Cola di sini. Apakah dapat kami tawarkan Diet Pepsi?” Sang konsultan akhirnya minta disediakan air putih saja.


Ketika konsultan itu sedang makan, tiba-tiba ada seorang berpakaian rapi membawa Coke Zero dan es batu. “Tadi Anda menginginkan ini kan?” Sambil tersenyum, ia menyajikan minuman untuk sang konsultan, kemudian segera berlalu.

Sang konsultan minum dengan puas, lalu segera memanggil pelayan yang tadi melayaninya. Pelayan itu datang dan tersenyum melihat Coke Zero tersedia di meja tamunya itu. Katanya, “Nah, sudah ada minuman kesukaan Bapak kan..?”

"Tadi, katanya tidak ada. Ini kok ada?”
“Benar, tadi memang tidak ada. Ini baru saja kami belikan di pasar swalayan seberang.”
“Restoran sedang ramai. Siapa yang membelikan?”
“Manager kami. Dia tidak terlalu sibuk di belakang.”
“Lho, tapi kata Anda, sedang ada kerjasama dengan Pepsi.”
“Ya, kalau menjual produk Coca Cola memang tidak bisa.. Tapi kalau memberi gratis kepada pelanggan, saya kira boleh Pak,” jawabnya sambil tersenyum ramah.

Moral Cerita :
Memberi pelayanan yang baik adalah hal yang umum dilakukan semua perusahaan. Mau memberi lebih, serta melakukan hal tidak terduga, bisa menjadi kunci sukses di zaman ini.

Ciptakan kesan yang berarti, yang memberikan impresi luar biasa yang akan selalu diingat oleh pelanggan Anda, sehingga dia menjadi pelanggan setia dan merekomendasikan produk Anda kepada orang lain. Ingatlah selalu bahwa Customer adalah Raja.

Kesan yang berarti tidak hanya berlaku pada pelangan perusahaan. Hal yang sama berlalu untuk kepemimpinan, teamwork, ataupun dalam kehidupan sosial kita. Orang-orang yang mendukung kita dalam hidup, memberikan kita peluang, semangat, dan berbagi kebahagiaan dengan kita juga merupakan "customer" dalam hidup kita.

Mau melakukan hal yang lebih atau hal yang menyentuh adalah kesempatan kita untuk diingat, dicinta, dihormati, diteladani, dan diikuti oleh orang lain.

Dikutip dari "Moment of Truth" Andrie Wongso dengan perubahan.

Monday, July 29, 2013

Surat Ayah Untuk Anak Gadisnya di Masa Depan

Dr. Kelly Flanagan
Sebuah surat ditulis oleh Dr. Kelly Flanagan untuk anak perempuannya. Berharap surat tersebut akan dibaca oleh anaknya saat ia dewasa kelak.


Sebenarnya hal itu dilakukan Dr. Kelly karena gemas saja membaca tips-tips percintaan jaman sekarang, apalagi saat membaca bagaimana seorang wanita harus membuat pria selalu tertarik kepadanya. Tiba di bacaan artikel tersebut, Dr. Kelly mengambil secarik kertas dan menuangkan pemikiran ala prianya di sana. Well, kira-kira surat yang ditulis olehnya berisi sebagai berikut, seperti dikutip dari MSN dan diadaptasi sesuai dengan bahasa Indonesia.

Putriku yang tercinta,

Beberapa waktu ini kami iseng membaca beberapa artikel yang kami temukan lewat hasil searching di Google. Mata kami terhenti ketika membaca sebuah artikel berjudul 'Cara Membuat Pria Selalu Tertarik Pada Anda'. Dan hal itu terus menerus mengganggu pikiranku, karena aku begitu mengkhawatirkanmu kelak.

Sebut saja aku ayah yang over protect, tetapi hal itu membuatku marah. Membuatku tak terima, kenapa harus kamu yang bersusah payah untuk membuat orang yang mencintaimu selalu tertarik padamu?

Sayangku, kuberitahukan kepada dirimu. Bahwa bukanlah tugasmu untuk membuat kekasihmu selalu tertarik dan mengagumimu.

Tugasmu semata-mata adalah melihat ke dalam jiwamu, yang terkadang dipenuhi dengan ego, kekosongan diri, serta penolakan yang bisa membuat dirimu jadi tidak berarti. Dan kau harus bisa melawan hal-hal negatif tersebut untuk tetap menjadi dirimu lagi.

Jika kau bisa menghargai diri sendiri, dan menemukan sisi menarik di dalam dirimu, maka kau akan menjadi bunga yang selalu dikelilingi kumbang. Yang membuat semua pria tertarik dan bertekuk lutut, serta ingin menghabiskan hidupnya denganmu.

Sayangku, aku juga ingin kau tahu, bahwa pria yang pantas mendampingi dirimu adalah pria yang selalu bisa menemukan ketertarikannya padamu, tanpa kau harus repot-repot menunjukkan hal itu padanya.

Aku bahkan tidak peduli, apakah saat di meja makan nanti ia akan meletakkan sikunya di meja makan. Yang terpenting, ia haruslah menjadi pria yang selalu tak bosan memandangi wajahmu, menemukan sudut-sudut senyummu.

Aku juga tidak peduli, apakah ternyata ia bukanlah pria yang pandai bermain golf denganku. Karena bagiku yang terpenting, ia bisa menemani anak-anaknya bermain dan memberikan waktu terbaik untuk keluarganya.

Aku juga tidak peduli, kalau ternyata ia tidak memiliki penghasilan yang besar. Karena bagiku yang terpenting ia harus menjadi pria yang bisa mengikuti suara hatinya untuk selalu kembali padamu, sesibuk apapun dirinya.

Aku juga tidak peduli apakah ia pria yang kuat atau tidak. Karena yang terpenting adalah, ia punya kekuatan untuk selalu membangun cintanya di hatimu.

Aku juga tidak peduli, partai mana yang ia pilih. Karena yang terpenting, setiap ia bangun di pagi hari, ia akan selalu memilih keluarga dan dirimu sebagai tempat berlindung baginya.

Aku juga tak peduli pada warna kulitnya, karena yang terpenting ia adalah pria yang bisa melukiskan kesabaran, pengorbanan, serta kelembutan di dalam hubungan kalian.

Aku juga tak peduli, ia terlahir dan dibesarkan dari agama apa, atau bahkan ia tak pernah punya agama sekalipun, karena yang terpenting ia tahu bagaimana cara menghargai setiap momen di hidupnya bersamamu. Hanya bersamamu.

Sayangku,

Apabila kelak kau bertemu dengan pria seperti itu, dan ternyata ia tak punya ketertarikan yang sama denganku. Yang kau perlu tahu adalah, sebenarnya kami punya satu hal terpenting yang sama di hidup kami, yakni

dirimu...

Dan yang tak boleh kau lupakan adalah, satu-satunya hal yang perlu kau lakukan untuk membuatnya selalu tertarik padamu adalah selalu menjadi dirimu.

Dengan penuh cinta,

pria yang selalu menjadi pengagum abadimu,

Ayah. 




dikutip : SL-Books

Monday, June 17, 2013

Kunci Kebahagiaan


Seorang Sarjana bertanya kepada Master Zen :
"Apa Kunci Kebahagiaan?"

Master menjawab :
- Saat tersenyum, tersenyumlah.
- Saat tertawa, tertawalah.
- Saat tidur, tidurlah.
- Saat makan, makanlah.
- Saat sedih, menangislah.
- Saat bersama dengan yang dicintai, sayangilah.
- Saat bertemu musuhmu, maafkan & maklumilah.
- Saat berpisah, lepaskan & relakanlah.
- Saat emosi datang, menjauhlah dari siapapun.

"Itulah kunci kebahagiaan".

Sarjana itu kembali bertanya :
"Semudahkah Itu?"

Master menjawab :
"Siapa Yang Bilang Mudah?"
- Banyak yang senyum, tetapi penuh kepedihan.
- Banyak yang tertawa, tetapi tertawa penuh keangkuhan.
- Banyak yang makan, tetapi tidak merasakan apa yang dimakan, penuh kesibukan, sibuk bicara, dan lainnya.
- Banyak yang bersama dengan yang disayang, tetapi tidak pernah mengutarakan rasa sayangnya. Sebaliknya banyak permainan kata-kata yang menyebabkan pertikaian. Baik antar sesama suami isteri, orang tua & anak, bahkan sesama saudara.
- Saat bertemu musuh, semakin penuh rasa benci & ada keinginan untuk menghabiskannya, emosi yang tidak terkendali.
- Saat berpisah, melekati & memikirkan setiap saat, tidak bisa melihat dunia lain yang penuh harapan untuknya. Matanya tertutup oleh kemelekatan yang hanya menghancurkan diri & orang sekitarnya.
- Saat emosi, hancurlah semua peluang untuk mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan & rejeki yang ada pun segera menjauh.

Tuesday, April 30, 2013

145 Macam Sebab dan Akibat Pembalasan (Terjemahan singkat “Sutra Tentang Sebab Akibat Dari Perbuatan Baik dan Buruk”)

Pada suatu hari saat Sang Buddha berdiam di Anatapindika Jetavana Arama, pada waktu itu Ananda bertanya : Mengapa nasib /akibat Karma setiap manusia berbeda? Sang Buddha memberitahu Ananda : itu disebabkan perbuatan dan niat kehendak yang berbeda dari kehidupan masa lampau, misalnya :

1. Bila di kehidupan lampau dapat menahan / tabah dengan segala macam penderitaan, maka di kehidupan sekarang terlahir dengan wajah rupawan (bagus).
2. Bila di kehidupan lampau suka marah-marah, maka di kehidupan sekarang akan terlahir dengan wajah yang buruk (jelek).
3. Bila di kehidupan lampau suka marah-marah, maka di kehidupan sekarang terlahir miskin dan susah.
4. Bila di kehidupan lampau memberikan penghormatan (respek) pada Triratna (Buddha, Dhamma. Sangha), maka di kehidupan sekarang menjadi makmur dan sejahtera.
5. Bila di kehidupan lampau sombong dan suka memandang rendah orang lain, maka di kehidupan sekarang terlahir rendah (miskin) dan susah.
6. Bila di kehidupan lampau menaruh hormat (respek) pada orang lain, maka di kehidupan sekarang terlahir dengan tubuh tinggi besar.
7. Bila di kehidupan lampau meremehkan Dharma yang benar, maka akan terlahir dengan tubuh kecil dan pendek.
8. Bila di kehidupan sekarang memiliki sifat yang galak dan tidak mau mengakui kesalahan, maka di kehidupan lampaunya adalah seekor kambing.
9. Bila di kehidupan sekarang terlahir dengan mata merah, karena di kehidupan lampaunya kikir akan cahaya (tidak mau berdana penerangan).
10. Bila pada kehidupan sekarang memiliki mata yang kecil bagai burung gereja, karena pada kehidupan lampaunya menjahit mata burung.
11. Bila pada kehidupan sekarang terlahir bisu, karena di kehidupan lampau memfitnah Dharma yang benar.
12. Bila di kehidupan sekarang terlahir tuli, karena pada kehidupan lampau tidak suka mendengarkan Dharma yang benar.
13. Bila pada kehidupan sekarang terlahir dengan gigi yang rusak dan ompong, karena pada kehidupan lampau suka menggerogoti tulang-tulang dan daging.
14. Bila pada kehidupan sekarang terlahir dengan penyakit gangguan hidung, karena pada kehidupan lampau tidak membakar dupa yang baik untuk Buddha.
15. Bila pada kehidupan sekarang terlahir dengan bibir pecah bagai kelinci, karena pada kehidupan lampau suka memancing ikan.
16. Bila pada kehidupan sekarang tubuh kulitnya hitam, karena pada kehidupan lampau suka meletakkan arca Buddha dekat tempat asap di bawah atap.
17. Bila pada kehidupan sekarang terlahir cacat kaki dan tangan, karena pada kehidupan lampau tidak menaruh hormat (respek) pada guru dan senior.
18. Bila pada kehidupan sekarang terlahir bongkok, karena pada kehidupan lampau mengenakan pakaian seadanya (tidak sopan) membelakangi arca Buddha.
19. Bila pada kehidupan sekarang memiliki leher yang pendek, karena pada kehidupan lampau suka pada waktu melihat senior mengelak dan menghindar.
20. Bila pada kelahiran sekarang menderita sakit pada hati, karena pada kehidupan lampau suka membacok dan menusuk tubuh pada makhluk.
21. Bila pada kehidupan sekarang sering menderita batuk, karena pada kehidupan lampau memberikan makanan dingin pada orang lain pada saat musim dingin.
22. Bila pada kehidupan sekarang tidak memiliki putra dan putri, karena pada kehidupan lampau suka membunuh ayam dan burung.
23. Bila pada kehidupan sekarang memiliki banyak anak dan cucu, karena pada kehidupan lampau suka menolong dan merawat makhluk hidup.
24. Bila pada kehidupan sekarang memiliki umur panjang, karena pada kehidupan lampau memiliki cinta kasih tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup.
25. Bila pada kehidupan sekarang berumur pendek, karena pada kehidupan lampau suka membunuh makhluk hidup.
26. Bila pada kehidupan sekarang menjadi kaya raya, karena pada kehidupan lampau suka berdana.
27. Bila pada kehidupan sekarang terlahir pintar dan cerdas, karena pada kehidupan lampau suka membaca sutra dan belajar.
28. Bila pada kehidupan sekarang terlahir bodoh, karena pada kehidupan lampau menjadi binatang.
29. Bila pada kehidupan sekarang memiliki temperamen yang tidak sabar, karena pada kehidupan lampau menjadi kera / monyet.
30. Bila pada kehidupan sekarang banyak menderita sakit berat, karena pada kehidupan lampau suka merusak / menfitnah Triratna (Buddha, Dharma, dan Sangha).
31. Bila pada kehidupan sekarang kaki dan tangan terasa tidak baik dan tidak sehat, karena pada kehidupan lampau suka mengikat kaki dan tangan makhluk hidup.
32. Bila pada kehidupan sekarang memiliki sifat jahat, karena kehidupan lampau terlahir sebagai ular atau kalajengking.
33. Bila pada kehidupan sekarang memiliki tubuh yang baik dan anggun, karena kehidupan lampau hidup melaksanakan sila (pengendalian).
34. Bila pada kehidupan sekarang enam inderanya tidak sempurna, karena pada kehidupan lampau sering melanggar sila.
35. Bila pada kehidupan sekarang tidak suka kebersihan, karena kelahiran lampaunya menjadi babi.
36. Bila pada kehidupan sekarang suka menyanyi dan menari, karena kehidupan lampaunya sebagai penyanyi atau penghibur.
37. Bila pada kehidupan sekarang begitu serakah, karena kehidupan lampau menjadi anjing.
38. Bila pada kehidupan sekarang menderita tumor pada leher, karena kehidupan lampau suka makan sendiri.
39. Bila pada kehidupan sekarang mulutnya mengeluarkan bau yang tidak sedap (bau busuk), karena pada kehidupan lampau suka mencaci maki orang lain.
40. Bila pada kehidupan sekarang memiliki lidah yang pendek, karena kehidupan pada lampau suka mencaci maki senior di belakangnya (tanpa diketahui orangnya).
41. Bila suka menganggu dan berzinahh pada wanita lain, akan terlahir sebagai angsa atau itik/bebek.
42. Bila suka berzinah terhadap sembilan kelompok keluarga/family sendiri, setelah  mati terlahir jadi burung merak.
43. Kikir pada kitab suci, tidak mau meminjamkan pada orang lain dan tidak mengajarkan kebijaksanaan kepada orang lain, akan terlahir sebagai ulat kayu.
44. Suka menunggang kuda dan memanah akan terlahir di tempat yang gersang dan tertinggal.
45. Suka berburu dan membunuh, akan terlahir sebagai harimau atau serigala.
46. Suka mengenakan pakaian warna-warni, akan terlahir sebagai unggas/burung-burung.
47. Suka mengikuti nada bahasa orang lain (mengejek), akan terlahir sebagai burung kakak-tua.
48. Suka menceritakan / menyebarkan keburukan orang lain, maka akan terlahir sebagai ular kobra.
49. Dengan kasar mencelakakan dan menfitnah orang lain, akan terlahir sebagai ulat.
50. Suka menyiarkan berita-berita buruk, akan terlahir sebagai burung.
51. Suka menyumpahi agar orang lain kena celaka, maka akan terlahir sebagai binatang rase liar.
52. Suka mengagetkan orang lain, akan terlahir sebagai binatang serangga.
53 Di kehidupan lalu suka menguasai makanan orang lain, sekarang terlahir sebagai burung pematuk kayu.
54. Mencuri air milik bhiksu (Sangha), kelak terlahir sebagai binatang penyu laut.
55. Mengotori lantai tempat kediaman pada bhiksu, akan terlahir sebagai kutu serangga.
56. Mencuri buah-buah makanan para bhiksu (Sangha), akan terlahir sebagai cacing tanah.
57. Di kehidupan lalu mencuri barang-barang milik bhiksu (Sangha), maka terlahir sebagai lembu atau keledai.
58. Memaksa pinjam barang pada bhiksu (Sangha), akan terlahir sebagai burung merpati.
59. Mencaci maki para bhiksu (Sangha), maka akan terlahir sebagai kutu sapi.
60. Memakan makanan sayur para bhiksu (Sangha), alam terlahir sebagai kutu sayur.
61. Mengunakan dan mengambil barang-barang milik bhiksu (Sangha), akan terlahir sebagai kutu terbang (laron).
62. Berdandan medok dan merokok masuk ke vihara akan terlahir sebagai burung dengan paruh yang jelek / buruk.
63. Suami-istri tinggal bersama di dalam vihara (tidur bersama), pada kelahiran berikutnya akan terlahir sebagai kutu serangga berkepala hijau.
64. Duduk di atas pagoda (candi) Buddha, akan terlahir sebagai binatang unta.
65. Memakai sepatu / sandal masuk vihara (altar), di kehidupan berikutnya akan terlahir sebagai binatang kodok bangkong.
66. Waktu mendengarkan ceramah sutra, tetapi tidak mendengarkan malah berbicara / ngobrol, maka di kehidupan berikutnya akan terlahir sebagai burung banyak celoteh.
67. Menodai kesucian bhiksu-bhiksuni, akan terlahir di neraka dan tersiksa. Sang Buddha memberitahu Ananda : orang-orang yang datang ke vihara terdapat dua macam niat. Yang pertama dengan niat dan hati yang saleh. Sedangkan yang kedua dengan hati dan tujuan tidak baik.
68. Jika datang ke vihara, menghormat pada Buddha dan anggota Sangha bertanya tentang makna sutra, menerima sila, bertobat, mendukung Triratna, tidak takut berkorban, membantu pengembangan Maha Dharma, itulah orang saleh utama.
69. Bila datang ke vihara, hanya minta barang kepada bhiksu, memaksa untuk pinjam barang serta mencari-cari kesalahan para bhiksu. Berniat jahat untuk merusak nama baik bhiksu, memakan makanan para bhiksu, tidak ada rasa malu, bahkan membawa pulang makanan dan buah-buahan dari vihara ke rumah. Orang-orang demikian setelah meninggal dunia akan terlahir di neraka dengan segala macam penderitaannya. Inilah orang yang paling jahat menerima akibatnya.
Sang Buddha bersabda lagi :
70. Pada kehidupan sekarang merampas dan merampok pakaian orang lain, setelah meninggal terjatuh di neraka beku yang dingin, masa hukumannya habis dilanjutkan kehidupan selanjutnya menjadi ulat sutra.
71. Tidak suka menyalakan lampu dan penerangan untuk kitab-kitab Buddha dan arca Buddha, setelah meninggal terjatuh di alam neraka yang gelap.
72. Di kehidupan sekarang suka membunuh dan membantai para makhluk, setelah meninggal terjatuh di alam neraka gunung pisau dan pohon pedang yang penuh penderitaan dan siksaan.
73. Di kehidupan sekarang suka berburu dan membunuh, setelah meninggal terjatuh di alam neraka gergaji besi.
74. Di kehidupan sekarang sering melakukan perbuatan sesat dan jahat, setelah meninggal dunia terlahir di alam nereka yang penuh penderitaan bagai tergencet tiang perunggu dan ranjang besi.
75. Di kehidupan sekarang banyak istri dan selir, setelah meninggal terjatuh di alam neraka tersiksa dan digencet / dipukul logam besi.
76. Di dalam kehidupan sekarang memiliki banyak suami, setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka tersiksa oleh binatang ular berbisa.
77. Di dalam kehidupan sekarang suka membakar dan memanggang burung dan ayam, setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang penuh penderitaan dengan siksaan debu sungai.
78. Di dalam kehidupan sekarang suka membunuh babi dan ayam, setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang penuh penderitaan dengan direbus air menjadi kuah.
79. Di dalam kehidupan sekarang suka mengurung dan menganiaya babi dan anjing, maka setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang penuh penderitaan dengan pukulan batu-batu tajam.
80. Di dalam kehidupan sekarang suka minum alkohol dan bermabuk-mabukan, setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang penuh penderitaan karena siksaan air timah.
81. Di dalam kehidupan sekarang sering melakukan pembunuhan dan pembataian makhluk hidup, maka setelah meninggal dunia akan terlahir di alam nereka yang penuh penderitaan karena siksaan roda besi.
82. Di dalam kehidupan sekarang sering melakukan pencurian buah-buahan makanan milik bhiksu (Sangha), maka setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang penuh penderitaan karena disiksa menelan biji-biji besi.
83. Di dalam kehidupan sekarang suka makan daging babi dan anjing, maka setelah meninggal akan terlahir di alam neraka yang penuh penderitaan karena disiksa dengan kotoran-kotoran.
84. Di dalam kehidupan sekarang menjual ikan hidup, setelah meninggal terlahir di alam neraka yang menderita dengan siksaan alat pembajak tanah.
85. Di dalam kehidupan sekarang ibu tiri menyiksa anak-anak yang bukan anak kandungnya sendiri (menyiksa anak-anak dari ibu sebelumnya / anak orang lain), setelah meninggal dunia akan terlahir di alam nereka yang menderita dengan siksaan kendaraan api.
86. Di kehidupan sekarang sering mengadu domba, maka setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang menderita dengan siksaan bajak besi.
87. Di kehidupan sekarang suka mencaci maki orang, akan terlahir di alam neraka yang menderita dicabut lidahnya.
88. Di kehidupan sekarang suka berbohong (dusta) akan terlahir di alam neraka dengan siksaan memakan jarum besi.
89. Di kehidupan sekarang suka membunuh makhluk hidup untuk upacara memuja dewa sesat, maka setelah meninggal dunia terjatuh ke alam neraka dengan siksaan tubuhnya di pahat besi.
90. Di kehidupan sekaranga menjadi Guru Feng-shui, Pengurus kematian atau penguburan (peramal yang menentukan hari penguburan/kremasi dan letak posisi peti mati yang bersifat komersial dan cari untung), Peramal Nasib, menipu uang dan harta orang lain, setelah meninggal dunia terlahir di alam neraka yang berbentuk penjara besi dan perunggu. Mengalami penderitaan karena tubuh dan tulang jasmaninya dipatuk burung, menerima penderitaan yang tak terhingga.
91. Di kehidupan sekarang menjadi “dukun” dan menipu harta dan benda orang lain, setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang berbentuk gunung daging.
92. Di kehidupan sekarang menjadi “dukun” yang menipu orang lain dengan mengatakan dapat pergi ke alam dewa untuk menghidupkan orang mati, maka setelah meninggal dunia akan terlahir di alam nereka dengan penderitaan punggungnya dibacok / ditebas.
93. Di kehidupan sekarang menjadi dukun yang mengajarkan orang untuk membunuh makhluk hidup untuk upacara, mendatangkan kutukan bagi makhluk hidup dan alam, maka setelah kematiannya akan terjatuh di alam neraka dengan penderitaan mata terpotong dan matanya terpatok.
94. Di kehidupan sekarang menjadi “dokter”, tak dapat menyembuhkan penyakit pasien malah menipu harta dan uang pasien, maka setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang penuh penderitaan tertusuk jarum dan seluruh tubuhnya terbakar api.
95. Di kehidupan sekarang merusak vihara dan pagoda, menodai bhiksu-bhiksuni, tidak berbakti kepada orang tua, setelah meninggal dunia akan terlahir di alam Neraka Avici, merasakan delapan penderitaan neraka besar, 136 penderitaan kecil, menerima penderitaan satu sampai lima kalpa baru bisa keluar. Jikalau tidak menemukan orang bijak yang membimbingnya, maka akan cepat terjatuh kembali ke neraka menerima penderitaan kembali.
Sang Buddha bersabda :
96. Lahir sebagai manusia berbadan tinggi, kotor dan suka marah-marah tanpa alasan, di kehidupan lampaunya adalah seekor unta.
97. Lahir sebagai manusia yang suka berjalan kaki, tidak takut bahaya dan sulit untuk memenuhi keinginan makan (nafsu makan), kelahiran sebelumnya sebagai kuda.
98. Lahir sebagai manusia tidak takut panas dan dingin, daya ingatannya lemah, kelahiran sebelumnya adalah seekor lembu/sapi.
99. Lahir sebagai manusia, merasa dirinya hebat, berbicara besar tidak rendah hati, tidak bisa membedakan yang benar dan salah, kehidupan sebelumnya adalah seekor keledai.
100. Lahir sebagai manusia yang suka makan daging dan jiwanya berani, kehidupan sebelumnya adalah seekor singa.
101. Lahir sebagai manusia, bermata besar, sering keluar rumah, tidak ada perhatian dengan istri, kehidupan sebelumnya adalah seekor harimau.
102. Lahir sebagai manusia yang berbulu panjang dan bermata kecil, suka menukar tempat tinggal, kelahiran sebelumnya adalah seekor burung.
103. Terlahir sebagai manusia yang sifatnya tidak menentu dan suka berubah, suka membunuh serangga, kelahiran sebelumnya adalah seekor rase.
104. Terlahir sebagai manusia gagah pemberani, nafsu birahinya sedikit, tidak sayang pada istri, kehidupan sebelumnya sebagai serigala.
105. Terlahir sebagai manusia yang tidak suka berpakaian bagus (rapi) suka menangkap perkara-perkara asusila dan pelanggaran-pelanggaran, waktu masih kecil matanya galak dan suka marah, kelahiran sebelumnya adalah seekor anjing.
106. Terlahir sebagai manusia yang suka mengumbar birahi, suka bicara dan bercanda asusila, kelahiran sebelumnya adalah seekor burung kakak-tua.
107. Terlahir sebagai manusia yang suka di tengah-tengah banyak orang, gemar berbicara banyak dan menggangu orang, kehidupan sebelumnya adalah seekor burung.
108. Terlahir sebagai manusia yang bertubuh pendek, suka gonta-ganti pasangan / pacar, kelahiran sebelumnya seekor burung gereja.
109. Terlahir sebagai manusia yang matanya merah dan giginya pendek (kecil), berbicara mengeluarkan liur, cara tidurnya melingkar, kelahiran sebelumnya adalah ular.
110. Terlahir sebagai manusia yang tidak tahu benar dan salah, nada suaranya penuh kebencian, kelahiran sebelumnya adalah ulat dalam kayu.
111. Terlahir sebagai manusia yang suka menyendiri dan rakus, di malam hari sedikit tidurnya, kelahirannya sebelumnya adalah seekor rase.
112. Terlahir sebagai manusia yang suka mencuri, serakah dan pendendam, tidak bisa membedakan kerabat atau bukan, kelahiran sebelumnya adalah seekor tikus.
113. Terlahir sebagai manusia suka menghancurkan pagoda dan merusak vihara, menyembunyikan barang-barang milik Triratna untuk dipergunakan secara sembrono bagai milik sendiri, setelah meninggal dunia terlahir di neraka Avicci, setelah mengalami penderitaan neraka akan terlahri sebagai binatang, seperti : burung merpati, mandarin duck (bebek yuan-yang), burung kakak-tua, burung kecil, ikan, penyu, kera, dan manjangan. Kalau terlahir sebagai manusia akan menjadi waria atau wanita penghibur.
114. Terlahir sebagai orang yang suka marah (emosional tinggi) akan terlahir sebagai ular berbisa, singa, harimau, serigala, beruang, rase, dan burung rajawali. Kalau terlahir kembali sebagai manusia suka memelihara babi dan ayam, menjadi tukang jagal, pemburu atau sipir penjara. Orangnya bodoh tidak memiliki nalar dengan baik. Setelah kematiannya akan terlahir sebagai gajah, babi, sapi, dan kambing, kutu-lembu, nyamuk, semut. Jika terlahir sebagai manusia akan menjadi tuna rungu, tuna netra dan bisu, tubuhnya tidak sempurna, bongkok dan tidak dapat menerima pelajaran Buddhadharma.
115. Terlahir menjadi manusia yang sombong, suka menghina (merendahkan) orang lain, setelah kematian terlahir sebagai ulat kotoran unta, keledai, anjing dan kuda. Kalau terlahir sebagai manusia menjadi pembantu dan budak, miskin dna menjadi pengemin, dipandang rendah oleh banyak orang lain.
116. Lahir sebagai manusia semasa menjadi pejabat menyalahgunakan kekuasaan, memeras dan mengambil barang-barang milik rakyat, setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka yang menyerupai gunung daging, banyak setan memotong dan menyantap tubuhnya.
117. Di kehidupan sekarang suka memaksa orang lain berdiri tanpa istirahat, setelah meninggal dunia terlahir sebagai gajah putih, hanya bisa berdiri tidak dapat tidur berbaring.
118. Di kehidupan sekarang melanggar peraturan sila untuk makan malam, maka setelah meninggal dunia akan terlahir sebagai setan kelaparan, dalam masa yang panjang tidak dapat minum dan makan. Bila ingin makan mulutnya mengeluarkan api dan asap.
119. Di kehidupan sekarang suka bertelanjang badan dan menampilkan tubuhnya (porno-aksi), setelah kematiannya akan terlahir sebagai burung yang kedinginan.
120. Di kehidupan sekarang saat melaksanakan Atthasila suka menyimpan makanan dan sembunyi makan, setelah meninggal dunia akan terlahir di alam neraka dengan penderitaan siksaan besi panas. Bila terlahir sebagai manusia menderita sakit tenggorokan dan mati pada usia muda.
121. Di kehidupan sekarang saat bernamaskara tidak menyentuh tanah, maka setelah meninggal dunia di alam neraka tergantung. Bila terlahir kembali menjadi manusia suka melakukan pembohongan.
122. Di kehidupan sekarang menghormat Buddha tidak beranjali, maka setelah meninggal dunia terlahir di tempat terpencil, senantiasa bekerja sangat letih tetapi tidak ada hasil.
123. Di kehidupan sekarang mendengarkan bhiksu membunyikan gong (Imkeng) tetapi tidak berdiri memberi jalan, maka setelah kematiaannya akan terlahir sebagai ular kobra yang besar dan digerogoti oleh ulat-ulat kecil.
124. Di kehidupan sekarang memberikan hormat dengan salam soja kepada Buddha (tidak beranjali), setelah kematiannya terlahir di neraka. Bila terlahir sebagai manusia sering menjumpai hal-hal yang buruk.
125. Di kehidupan sekarang beranjali dan kelima bagian tubuh (kepala, dua tangan dan dua lutut) menyentuh lantai (bumi), dengan tulus hati menghormati para Buddha, senantiasa terlahir dengan wajah agung dan hidupnya bahagia.
126. Di kehidupan sekarang sering marah dan rakus makan, kehidupan lampaunya menjadi orang gila.
127. Dikehidupan sekarang memiliki mata melotot keluar dan juling, karena kehidupan lampaunya suka sesat melirik istri atau perempuan milik orang lain.
128. Di kehidupan sekarang melindungi (membantu) istri tetapi mencaci-maki ayah-ibu, setelah kematiannya terlahir di alam neraka dengan penderitaan lidahnya dipotong.

Sang Buddha memberitahu Ananda : Semua penderitaan itu disebabkan melakukan sepuluh karma buruk (1. Membunuh; 2. Mencuri; 3. Berzinah; 4. Berdusta; 5. Bicara Buruk; 6. Menfitnah; 7. Ucapan Tidak Bermanfaat; 8. Keserakahan; 9. Kebencian; 10. Kebodohan) Karma Buruk bagian atas terlahir di alam neraka. Bagian Bawah terlahir di alam setan kelaparan. Bagian menengah terlahir di alam binatang. Melakukan sepuluh karma buruk akan terlahir di tiga alam celaka (penderitaan). Seandainya terlahir sebagai manusia, akan memperoleh dua hal, yaitu : penderitaan dan pembalasan.

1. Pelanggaran karena melakukan pembunuhan : akibatnya berumur pendek dan banyak penyakit.
2. Pelanggaran karena melakukan pencurian : akibatnya menjadi miskin dan tidak bisa menjaga harta benda.
3. Pelanggaran karena melakukan perbuatan asusila (zinah) : akibatnya pasangan hidup tidak setia dan suami istri suka bertengkar, tidak sejalan dengan harapan pribadi.
4. Pelanggaran karena kata-kata dusta : akibatnya sering difitnah dan ditipu serta dibohongi.
5. Pelanggaran karena suka mengadu domba (merusak hubungan satu sama lainnya) : akibatnya mendapatkan keluarga berantakan (hancur) dan anggota keluarga yang tidak baik.
6. Pelanggaran karenan berbicara jahat (kotor) : akibatnya akan sering mendengar caci maki dan ucapannya disanggah orang lain atau pembicaraannya selalu diperdebatkan orang lain.
7. Bicara yang tidak bermanfaat (gosip atau bicara tidak ada artinya) : akibatnya walaupun berbicara benar tidak ada yang percaya dan kata-katanya tidak dapat terlaksana.
8. Pelanggaran karena keserakahan hati : akibatnya keserakahan akan harta dan selamanya tidak puas, juga keinginan dan harapannya tidak didapat yang sesuai kemauannya.
9. Pelanggaran karena kebencian (jahat dan dendam) : akibatnya sering dipersulit dan sering dibuat marah serta dilukai oleh orang lain.
10. Pelanggaran karena memiliki pandangan salah dan sesat : akibatnya akat terlahir di keluarga sesat, sering menderita rendah diri serta segala sesuatu berjalan tidak ideal.

Sepuluh kejahatan tersebut menjadi penyebab utama dari semua penderitaan.

Dalam persamuan adakah pertanyaan bagi kemungkinan melakukan pelanggaran sepuluh perbuatan buruk? Mereka takut dan bertanya, bagaimanakah caranya untuk menghindar agar tidak terlahir di tiga alam celaka yang menderita? Sang Buddha bersabda :
129. Di kehidupan sekarang membangun pagoda dan vihara, kehidupan yang akan datang terlahir menjadi raja.
130. Di kehidupan sekarang sebagai pejabat pemerintahan dan melindungi Vihara Buddha, kehidupan akan datang pasti terlahir menjadi perdana menteri atau menteri besar, pembesar (negarawan/bangsawan) dan pejabat pemerintah, sandang pangannya (termasuk pakaian dan kendaraannya) berkecukupan.
131. Di kehidupan sekarang tubuhnya mempraktikkan kebaikan menjadi suri tauladan untuk menggugah orang lain, melakukan banyak kebajikan, maka di kehidupan akan datang terlahir menjadi orang kaya raya, dihormati banyak orang, dan semua berjalan dengan lancar.
132. Di kehidupan sekarang suka menyalakan lampu penerangan, di kehidupan akan datang terlahir di alam dewa surya rembulan.
133. Di kehidupan sekarang suka berdana dengan cinta kasih, merawat makhluk hidup, maka kehidupan akan datang terlahir menjadi kaya raya.
134. Di kehidupan sekarang suka berdana makanan dan minuman, maka kehidupan yang akan datang peroleh makanan dan minuman berkecukupan, badan jasmaninya kuat, panjang usia, pintar dan bijaksana. Bila berdana kepada para binatang akan memperoleh seratus kali lipat pahala rejekinya,
135. Berdana kepada orang yang tidak punya benih (akar) kebajikan, peroleh kebaikan beribu kali ganda.
136. Berdana kepada bhiksu yang mentaati sila akan peroleh sepuluh ribu kebaikan.
137. Berdana kepada bhiksu yang menyebarluaskan Sutra Mahayana, menjabarkan ajaran-ajaran rahasia Tathagata, agar banyak orang terbuka mata hatinya (sadar), akan memperoleh paha kebajikan yang tak terhingga.
138. Memberikan persembahan kepada para Buddha dan Bodhisattva, akan memperoleh pahala kebajikan yang tak terbatas.
139. Berdana dan merawat orang tua atau berdana kepada orang sakit, juga akan memperoleh pahala kebajikan yang tak terbatas.
140. Di kehidupan sekarang membantu (memberikan kemudahan) para bhiksu untuk mandi, kehidupan akan datang terlahir dengan wajah agung dan rupawan, akan dihormati banyak orang.
141. Di kehidupan sekarang suka memuji orang yang menguasai makna dan pembacaan sutra, di kehidupan akan datang terlahir dengan suara merdu, membuat orang yang mendengarkan hatinya penuh kegembiraan.
142. Di kehidupan sekarang gembira melaksanakan sila, kehidupan akan datang terlahir memiliki wajah baik dan rupawan.
143. Di kehidupan sekarang menggali sumur dan memberikan air kepada banyak orang, menanam pohon agar orang banyak bisa berteduh dan menyejukkan, kehidupan akan datang terlahir menjadi raja dengan makanan dan minuman yang berkecukupan.
144. Di kehidupan sekarang suka menyalin sutra dan dibagikan kepada orang untuk dibaca, kehidupan akan datang terlahir memiliki talenta dalam bicara, belajar Dharma menjadi mudah dan memperoleh pencerahan, mendapat perlindungan dan bimbingan dari para Buddha dan Bodhisattva, sering menjadi pemimpin orang banyak.
145. Di kehidupan sekarang suka membantu membuat jembatan dan kapal untuk membantu orang menyeberang, maka kehidupan akan datang terlahir dengan memiliki tujuh macam ratna manikam, banyak orang menghormati dan melayani.

Sang Buddha memberitahu kepada Ananda. Dahulu dalam pembabaran sutra juga sudah banyak contoh tentang sebab akibat. Hendaknya para insan mempelajari dan belajar melatih diri, maka akan dapat menyingkirkan penderitaan dan kesulitan.

Dikutip dari “Sutra Tentang Sebab Akibat Perbuatan Baik dan Buruk”. (Maha Tripitaka jilid XXVIII halaman 920)
Sumber : Majalah Harmoni No. 23/02/IV/Har/12.

Popular Posts