Pages

Monday, January 11, 2016

Jodoh.... Oh.... Jodoh.... Siapakah yang Menentukan???

Dahulu ada seorang pelajar yang sudah menentukan hari pernikahannya dengan calon istri, tapi si calon istri malah menikah dengan orang lain. Tak kuat menerima pukulan ini, pelajar lalu jatuh sakit dan tidak sembuh-sembuh. Keluarganya lalu mencari tabib terkenal kemana-mana tapi semuanya tidak berdaya. Dalam sekejap si pelajar nafasnya sudah senen kemis. Hingga saat itu, ada seorang bhiksu setempat lewat, bersedia menemui si pelajar. Berdiri di depan tempat tidurnya, mengambil sebuah cermin dan menyuruhnya melihat.... Pelajar melihat laut lepas, sebuah mayat perempuan telanjang terbaring di pantai. Orang pertama lewat, melihatnya,  geleng-geleng kepala, lalu pergi. Orang kedua lewat, membuka bajunya, menutupi mayat perempuan tersebut, lalu pergi. Orang ketiga lewat, menggali lubang,   dengan sangat hati-hati mengubur mayatnya. Dalam keraguan, pemandangan dalam cermin berganti.... Pelajar melihat calon istrinya, dalam suasana pesta kawin hingga saat penutup kepala diangkat oleh  suaminya....   Pelajar tidak dapat melihat dengan jelas maka Bhiksu menjelaskan,  "Mayat prempuan yang ada di pantai itu,  adalah kehidupan lalu calon istrimu.  Kamu adalah orang kedua yang lewat itu, yang memberi dia pakaian, dia jatuh cinta pada kamu dalam kehidupan saat ini hanya untuk membayar kembali cinta kamu. Orang yang akan dia balas budinya seumur hidup itu, adalah orang terakhir yang menguburnya, orang itu adalah suaminya saat ini." Pelajar menjadi sadar,  terduduk dari tempat tidurnya, penyakitnya sembuh! 
Jodoh – tidak boleh dipaksakan. Apa yang seharusnya milikmu, cepat atau lambat tetap milikmu; yang bukan milikmu, biar kerja keras bagaimanapun, juga tidak akan dapat. Tetapi biar kapan pun, jangan pernah melepaskan pencarian kamu terhadap yang sejati, baik dan indah serta nilai kehidupan manusia. Dunia ini, bila dibilang besar ya besar dibilang kecil ya kecil. Meski kau dan aku sudah mempunyai janji di kehidupan lalu, tetap harus pakai hati untuk mencarinya. Aku sangat peduli bahwa kamu adalah temanku, sangat menghargai, sangat menghargai ---kamu. Aku jarang menelpon kamu... bukan berarti .....tidak memikirkan kamu, tapi khawatir mengganggu kamu yang sedang sibuk. Maka itu aku sering mengirim pesan chat kepada kamu,  melambangkan adanya jodoh di setiap pengiriman karena aku senantiasa peduli pada kamu. Di dalam hati sanubariku, selalu ada suatu perasaan, rasa haru dan rasa bersyukur. Aku ingin bersama kamu berbagi karangan ini,  karena kamu adalah temanku. Mengirim kabar menggembirakan, menerima kabar membahagiakan, berbagi adalah suka cita,  bersedia berbagi dengan kamu, menikmati indahnya hidup ini!

Boneka Lily

Dari dalam toko mainannya, seorang pria tua yang biasa dipanggil Tuan Oeng oleh para pelanggannya menatap seorang gadis berseragam putih-merah yang sedang terpaku di depan kaca etalase toko. Sudah dua minggu ini di waktu yang sama, yaitu pukul 13.15, gadis itu selalu berdiri di depan etalase toko.
”Bisa aku bantu?” tegur Tuan Oeng tersenyum ramah. Gadis itu menoleh ke arah Tuan Oeng kemudian mengetuk kaca etalase. ”Berapa harga Lily?” tanya gadis itu kemudian.
Tuan Oeng menoleh ke arah etalase dan menemukan sebuah boneka bergaun ungu yang ditunjuk oleh gadis berkepang dua itu.
”Lima puluh ribu rupiah,” jawabnya singkat.
”Mahal, ya...” ujar gadis itu terdengar seperti menggumam. Ia kemudian melangkah meninggalkan toko dan pemiliknya.
Keesokannya, Tuan Oeng kembali menemukan gadis kecil itu terpana di depan etalase. Matanya bergeming dari Lily yang telah dipajang sejak dua minggu lalu. Kali ini Tuan Oeng tak menegur. Ia membiarkan saja gadis itu menatap Lily sampai puas.
Sampai di suatu Minggu, Tuan Oeng melihat gadis itu datang bersama seorang anak laki-laki yang lebih kecil. Keduanya mengendarai sepeda dan memarkir sepeda tepat di depan etalase toko. Terlihat raut gembira di wajah gadis itu.
”Selamat datang. Ada yang bisa dibantu, Nak?” sambut Tuan Oeng.
Kedua bocah itu adalah pembeli pertama di hari itu.
”Saya ingin membeli Lily,” ujar gadis itu mantap.
Tuan Oeng tersenyum. ”Apakah kau meminta orangtuamu untuk membelikannya?” tanyanya.
Gadis itu menggeleng. ”Tidak, Pak. Saya memecahkan celengan yang sudah saya isi sejak setahun.
Tuan Oeng terpana memandang gadis kecil yang mulai berceloteh bangga itu.
”Walaupun hanya memiliki empat puluh ribu dari uang celengan saya, Ayah memberi uang dua puluh ribu untuk menutupi kekurangannya.”
Tuan Oeng mengangguk mengerti. ”Berarti kau sudah tak punya tabungan lagi, ya?”
Gadis itu mengangguk. "Kali ini iya, tetapi mulai besok saya akan makin rajin menabung. Itu sebabnya ayah melebihkan sepuluh ribu agar saya dapat membeli celengan baru."
Tuan Oeng mengacungkan kedua jempolnya tanda bangga. "Hebat!" Ujarnya.
Sesaat kemudian transaksi berlangsung. Gadis kecil menulis alamat dan nomor telp.
"Bisakah Bapak membungkus Lily dengan rapi?"
"Tentu. Untuk gadis kecil yang rajin menabung, Bapak akan bungkus dengan kotak cantik berwarna ungu."
Ketika sedang membungkus Lily, Tuan Oeng memerhatikan kedua bocah tadi berada di depan rak mainan tentara.
"Aku akan menabung seperti kakak agar bisa membeli paket mainan tentara ini, "ujar bocah lelaki itu kepada kakak perempuannya.
"Kamu suka, ya?" Tanya gadis kecil itu kepada adiknya.
"Iya. Hampir semua teman-temanku memilikinya. Namun, mana mungkin ayah membelikannya untukku," nada bocah lelaki itu terdengar kecewa.
"Ayah kan pernah bilang kepada kita, jika kita menginginkan sesuatu kita harus berusaha sendiri.
Bocah lelaki itu mengangguk.
"Aku akan berusaha keras seperti kakak! Aku akan menabung."
"Sebaiknya kau menabung dengan cepat," timpal satu anak buah Tuan Oeng, masuk ke dalam percakapan.
"Paket mainan tentara itu edisi terbatas dan tidak diproduksi lagi. Di toko ini bahkan hanya tinggal dua paket."
Raut wajah bocah lelaki itu berubah kecewa. "Benarkah? Yahh... "
Beberapa saat kemudian kedua bocah itu sudah melangkah keluar toko. Namun gadis kecil itu datang kembali ke toko sendirian. Ia membawa sebuah kotak berwarna ungu.
"Maaf pak. Bolehkan saya menukar Lily dengan satu paket tentara edisi terbatas itu?" ujar gadis itu.
Tuan Oeng terkejut & terbengong sejenak. "Kenapa kau mau menukarnya?"
"Saya tidak tahu kenapa saya sedih setelah mendapatkannya. Mungkin karena saya takut adik saya tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Sepertinya ia masih terlalu kecil untuk menabung cepat."
Tuan Oeng tersenyum. Ia merasa gadis di depannya sudah dewasa. Padahal gadis itu dan adiknya sama-sama masih kecil. Transaksi penukaran berlangsung. Harga miniatur tentara lebih murah sepuluh ribu rupiah daripada harga Lily.
Ketika gadis itu keluar, Tuan Oeng sibuk menulis sesuatu di atas kertas. Selesai menulis ia memanggil anak buahnya, "Kirimkan kotak ungu ini ke alamat gadis kecil tadi. Ini alamat dan nomor telp."
Anak buah Tuan Oeng membaca isi kartu :
"Untuk seorang kakak yang murah hati dan rajin menabung.
Tertanda Tuan Oeng.
Dari TOKO HATI."
Nah sobat,
Jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha sendiri, semua itu berasal dari diri kita sendiri.
Seperti kita mencari pekerjaan atau mencari jodoh. Bila kita tidak berusaha mana mungkin bisa mendapatkannya dengan GRATIS..
~~~~~~~~~~
SeMOGa BerManfaat.
SALAM KEBAJIKAN.
Sumber : Kebajikan 德

Monday, October 19, 2015

Amitabha Buddha / 阿弥陀佛



Kita mengenal adanya Amitabha Buddha / 阿弥陀佛 berdasarkan sabda Sakyamuni Buddha yang tercatat dalam kitab suci, antara lain: Amitayurdhyana Sutra, Maha Sukhavativyuha Sutra, Sukhavativyuha Sutra, dan sutra-sutra lainnya. Sutra ini merupakan sutra pokok bagi agama Buddha Mahayana aliran Sukhavati / Ching tu / Vimalaloka / Tanah Suci. Amitabha Buddha dikenal juga dengan nama Amita Buddha, Amida Butsu (Jepang) Amitohud / Amituofo (China) atau Amitayus Buddha (sansekerta) yang artinya terdiri dari tiga suku kata:

A         : tidak

Mita    : ukuran

Abha  : cahaya atau ayus : kehidupan

Jadi Amitabha artinya cahaya yang tak terukur/ cahaya tanpa batas, (berkaitan dengan konsep ruang) sedangkan Amitayus artinya kehidupan tanpa batas (berkaitan dengan konsep waktu). Amitabha mengandung falsafah Beliau yang telah mengatasi ruang dan waktu, lambang cinta kasih, berkah karunia dan kebijaksanaan yang tak terbatas.

Di dalam Maha Sukhavativyuha Sutra dikatakan bahwa sebelum menjadi Buddha Amitabha, dulunya Beliau adalah seorang bhiksu bernama Bhiksu Dharmakara, yang hidup dijaman Buddha Lokesvararaja, Beliau telah mengikrarkan 48 prasetya agung/ janji suci tentang negeri Buddha-Nya yang akan terwujud apabila Beliau mencapai pencerahan sempurna (Anuttara Samyaksambodhi).

Dari sabda Sakyamuni Buddha kita mengetahui bahwa Bhiksu Dharmakara telah mencapai pencerahan sempurna, dikenal sebagai Amitabha Buddha/ Amituofo dan surganya bernama Sukhavati (kebahagiaan yang luhur) atau Tanah Suci (Pure Land, Ching Tu, Vimalaloka) yang letaknya di sebelah barat dari dunia saha.

Di dalam vihara aliran Sukhavati, banyak dijumpai gambar atau rupang Amitabha Buddha yang diapit oleh Boddhisattva Avalokitesvara (sisi kiri) dan Boddhisattva Mahastamaprapta (sisi kanan). Kadang dilukiskan bersama dengan 25 Boddhisattva Mahasattva pengikutnya.

Untuk menghormati dan mengikat jodoh dengan Amitabha Buddha, sesuai dengan prasetyanya yang ke 18 s/d 20, maka dianjurkan kepada semua makhluk untuk membaca berulang-ulang Namo Amituofo dengan gembira dan penuh rasa sujud serta pikiran, perasaan dan perbuatan terkonsentrasi dalam alunan pujian Namo Amituofo.

Janganlah Anda berpikir bahwa melakukan pengucapan Namo Amituofo adalah suatu hal yang mudah, hanya apabila rintangan karma buruk kita tidak terlalu besar, barulah itu mudah kita ucapkan. Mereka yang memiliki rintangan karma buruk berat, tak akan dapat mengucapkannya walaupun mereka ingin melakukannya. Contoh : Devadatta, ia hanya mampu mengucapkan “Namo” saja, rintangannya karma buruknya besar sehingga tak mampu mengucapkan kata “Buddha”.

Di dalam Amitabha Sutra/ 佛說阿彌陀經, Hyang Buddha bersabda kepada Sariputra :

舍利弗。若有善男子。善女人。 聞說阿彌陀佛。執持名號。 若一日。 若二日。 若三日。 若四日。 若五日。 若六日。 若七日。 一心不亂。 其人臨命終時。 阿彌陀佛。 與諸聖眾 現在其前。 是人終時。 心不顛倒。 即得往生阿彌陀佛極樂國土。

shè lì fú。 ruò yǒu shàn nán zǐ。 shàn nǚ rén。 wén shuō āmítuófó。 zhí chí míng hào。 ruò yī rì。 ruò èr rì。 ruò sān rì。 ruò sì rì。 ruò wǔ rì。 ruò liù rì。 ruò qī rì。 yī xīn bù luàn。 qí rén lín mìng zhōng shí。āmítuófó。 yǔ zhū shèng zhòng xiàn zài qí qián。 shì rén zhōng shí。 xīn bù diān dǎo。 jí dé wǎng shēng āmítuófó jí lè guó tǔ。

"Sariputra, jika terdapat pria atau wanita berbudi luhur, mendengar nama Buddha Amitabha, lalu merenungkan dan melafalkan nama-Nya dalam batin selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari. Dengan hati yang tidak bimbang, pada saat menjelang akhir hidupnya, Buddha Amitabha beserta para Boddhisattva Mahasattva akan muncul di hadapannya. Pada saat meninggal dunia, hatinya tidak kacau dapat terlahir di Alam Sukhavati Negeri Buddha Amitabha." 

Mari kita bersama-sama mengikat sebab dan jodoh untuk terlahir Sukhavati, dengan sering mengulang pujian “Namo Amituofo”. 

Artikel sebagian di ambil dari buku perjalanan kematian yang disusun oleh: YM. Maha Bhiksu Dutavira Sthavira.


Dibagikan oleh : Nava Catvarimsa Virya (四十九振) dalam Mahayana TS.

Digubah oleh : Krystella.

Monday, May 18, 2015

Patriarch ke-6 Ven. Hui Neng (第六祖惠能大師)

Master Hui Neng adalah seorang dari daerah Xin Zhou (嶺南新州人) karena itu sering disebut sebagai orang barbar (suku yang direndahkan). Pada malam saat menjelang kelahirannya tiba-tiba di rumah kedatangan dua orang bhiksu yang tidak dikenal. Ternyata memang dari kecil Hui Neng sudah mempunyai jodoh dengan Buddha. Mereka datang dengan maksud memberikan nama kepada anak dari tuan rumah yang akan lahir. Nama pemberian dua orang bhiksu tersebut adalah Hui Neng (上惠下能), yang berarti akan menyebarkan dharma untuk kebahagiaan semua makhluk dan mampu melaksanakan pengembangan Buddha Dharma. Namun sayang sang ayah meninggal dunia saat dia kecil. Akhirnya beliau yang bekerja sebagai pemotong kayu di hutan untuk kemudian dijual demi membahagiakan ibundanya.

Suatu hari sesudah Master Hui Neng menjual kayu seperti biasanya, tiba-tiba di tengah perjalanan pulang beliau mendengar seorang yang sedang membaca Sutra Intan  (Jīn gāng jīng/ 金刚经) :“應無所住,而生其心……” (seharusnya tidak ada sesuatu yang dilekati, karena muncul dari perasaan saja >>> jangan pernah terpaku pada objek apapun karena segala baik, buruk, suka dan tidak suka hanya dari dalam perasaan saja).

Seketika beliau tercerahkan. Ternyata orang yang membacakan Sutra Intan tersebut pernah belajar di Dong Chan Monastery (東禪寺), tempat Master Zen ke-5 Ven.Hong Ren memberikan bimbingan Dharma kepada umat Buddha. Maka Hui Neng memutuskan akan mencari Master Hong Ren untuk belajar Dharma darinya. Setelah mendapatkan persetujuan dari ibundanya beliau segera melakukan perjalanan. Setelah melakukan perjalanan selama 30 hari beliau akhirnya sampai di Dong Chan Monastery (蘄州黃梅縣東禪寺), segera menghadap Master Hong Ren.

“ Siapa kamu, apa tujuanmu datang kesini?”
“Murid adalah seorang dari Xin Zhou, datang menghadap guru untuk belajar menjadi Buddha.”
“Berarti kamu adalah seorang barbar, bagaimana bisa menjadi Buddha?”
“Manusia memang ada perbedaan utara dan selatan, namun apakah benih ke-Buddha-an juga ada perbedaan?”

Master Hong Ren melihat kebijaksanaan Hui Neng memang sangat tinggi. Untuk menghindari agar tidak timbul orang yang iri kepadanya maka beliau menugaskannya di dapur untuk mengerjakan pekerjaan dapur, memotong kayu dan menggiling padi. Sampai pada suatu hari Master Hong Ren mengumpulkan para muridnya untuk memberikan tugas kepada mereka. Bagi semua murid wajib membuat sebuah gatha (puisi) yang akan membuktikan bahwa mereka telah mencapai pencerahan. Bagi yang memang sudah mencapai pencerahan maka dari gatha tersebut akan tampak bahwa orang yang membuat telah mampu melihat dasar dari ajaran gurunya. Yang kemudian sang guru akan mewariskan jubah dan patra Zen kepadanya yang berarti juga menjadi leluhur Zen ke-6. Diantara begitu banyak muridnya hanya Master Shen Xiu (神秀大師) yang mempunyai kebijaksanaan menonjol, dan diunggulkan akan menjadi penerus jubah dan patra Zen. Maka semua murid tidak ada satupun yang mau membuat gatha. Karena tahu hanya dia yang pasti membuat gatha, maka untuk menghindari agar orang lain tidak menganggapnya mendapatkan jubah dan patra Zen secara tidak semestinya Master Shen Xiu menulis gatha dari buah pemikirannya di dinding selatan vihara tempat dimana sang guru, Master Hong Ren pasti akan melewatinya di pagi hari.
Gatha tersebut adalah :

身是菩提樹    Shēn shì pútí shù
心如明鏡臺    Xīn rú míngjìng tái
時時勤拂拭    Shíshí qín fúshì
莫使惹塵埃    Mò shǐ rě chén'āi

"Tubuh adalah pohon bodhi,
hati laksana cermin yang berbingkai,
setiap saat rajin membersihkannya,
jangan biarkan debu  menempel."

Master Hong Ren menganggap gatha tersebut tidak mencerminkan Shen Xiu telah mencapai pencerahan, (mungkin karena beliau menganggap itu hanyalah pelatihan diri menjaga kemurnian sila dan pelatihan diri. Sedangkan Zen mengajarkan kita untuk bereksplorasi terhadap diri 明心見性 dengan hati yang terang maka akan melihat Buddha dalam diri kita. Dengan demikian maka seseorang baru bisa mencapai pencerahan) melainkan hanya sampai pada pintu gerbang pelatihan diri.
Kemudian pada hari berikutnya saat mendengar seorang sedaang melafalkan gatha tersebut Hui Neng segera memintanya untuk mengantarkannya ketempat gatha tersebut ditulis.

Meskipun bukan seorang cendekiawan bahkan huruf saja tidak mengerti namun Master Hui Neng mengetahui dengan jelas bahwa sang pembuat gatha belum mencapai pencerahan. Maka beliau segera memohon seseorang untuk membantunya menulis gatha :

菩提本無樹    Pútí běn wú shù
明鏡亦非臺    Míngjìng yì fēi tái
本來無一物    Běnlái wú yī wù
何處惹塵埃    Hé chù rě chén'āi

“Bodhi (pencerahan) sebenarnya tidak berpohon,
cermin yang bening juga tidak berbingkai,
karena pada awalnya memang tidak ada apapun,
bagaimana bisa terkotori oleh debu?”

Gatha tersebut memperlihatkan sebuah sifat asli dari sebuah kekosongan, sifat kebodhian pada awalnya bukan bersih bukan pula tidak bersih, namun hanya karena adanya proses perubahan maka kebodhian tersebut menjadi tidak tampak karena adanya kekotoran duniawi. Namun jika kita tetap bereksplorasi diri dan terus melihat ke dasar diri kita maka sebenarnya kebodhian ada di dalamnya. Maka meskipun kotor tetap ada yang bersih, bagi orang yang berusaha membersikan hati dan melihat sifat asli 明心見性.
Melihat gatha tersebut Master Hong Ren sempat kaget, namun demi menjaga agar tidak ada yang iri pada Hui Neng maka dia segera menghapus gatha tersebut dan mengatakan orang yang menulisnya belum mencapai pencerahan. Kemudian secara diam-diam Master Hong Ren menjenguk Hui Neng di tempat kerjanya, kemudian mengetuk tongkat di tanah sebanyak 3 kali yang berarti meminta Hui Neng datang menemuinya paa pukul 3 pagi.

Pada malam itu pula Hui Neng datang menepati janji. Master Hong Ren membabarkan Sutra Intan / Jin Gang Jing kepadanya dan mewariskan jubah dan patra Zen kapadanya, maka Ven. Hui Neng  yang kemudian menjadi patriarch ke-6 Zen. Setelah itu sang guru mengantarkannya menyeberang sungai dan menuju ke selatan. Keesokan harinya mendengar jubah dan patra sudah diwariskan kepada Hui Neng maka para murid segera mengejarnya. Hanya salah seorang dari mereka yang menemukan Hui Neng, namun dia tidak mampu mengangkat jubah dan patra tersebut untuk dibawa pulang . Dia sadar Hui Neng yang berhak atas jubah dan patra tersebut.

Hui Neng terus berjalan, sampai pada suatu hari beliau menginjakkan kaki di Guang Zhou Fa Xing monastery. Pada saat itu Ven. Yin Zong (印宗法師) sedang berceramah tentang Parinirvana Sutra (涅槃經). Tiba-tiba dua orang bhiksu berdebat saat melihat bendera. Apakah panji-panji (bendera) yang bergerak ataukah angin yang bergerak. Hui Neng berkata :

“Bukan angin yang bergerak, bukan pula bendera yang bergerak, namun pikiran Andalah yang sedang bergerak.”

Mendengar kata-kata tersebut Ven. Yin Zong segera mengundangnya untuk berbicara, dan setelah Ven.Yin Zong mengetahui bahwa dia adalah Master Zen ke-6 kemudian memohonnya sebagai guru. Akhirnya meskipun Ven.Yin Zong yang mencukur rambut Ven. Hui Neng namun kemudian dia berbalik menjadikan Ven. Hui Neng sebagi gurunya. Dengan demikian ajaran Zen dibawah Master Hui Neng berkembang pesat menjadi 5 sekte (一花開五葉) seperti yang telah diramalkan Master Bodhidharma dalam gathanya :

“我本來此土,傳法度迷津。一花开五叶,结果自然成。”

Ternyata memang Zen yang dibawa oleh Master Bodhidharma dari India , pada masa Ven. Hui Neng berkembang pesat dan menjadi 5 sekte besar, setelah itu tidak ada lagi pewarisan jubah dan patra zen. Dengan sendirinya Zen mengalir deras sampai ke seluruh belahan dunia. Kini tubuh sarira dari Master ke-6 Zen Ven. Hui Neng masih utuh dan disimpan di Nan Hua monastery (廣東韶關南華禪寺)

Dari kisah ini kita tahu bahwa setiap manusia memiliki sifat ke-Buddha-an. Setiap manusia ingin terbebas dari penderitaan mencapai kebahagiaan. Sifat ke-Buddha-an tidak bisa dilihat dari fisiknya saja.  Meskipun berbeda kulit dan pakaian bahkan kebiasaan namun setiap manusia memiliki benih ke-Buddha-an seperti yang dikatakan oleh Hui Neng : "Meskipun ada laki-laki dari utara atau selatan, utara dan selatan tidak membuat perbedaan sifat ke-Buddha-an mereka. Seorang Barbar secara fisik memang berbeda, tetapi tidak untuk perbedaan sifat ke-Buddha-an.

Dari kisah ini kita bisa belajar dari Sutra Intan  (Jīn gāng jīng/ 金刚经) yang terdiri dari 32 bab. Dalam bab ke-8 dikatakan:

 依法出生分第八

“须 菩提!于意云何?若人满三千大千世界七宝以用布施,是人所得福德,宁为多不?

”须菩提言:“甚多,世尊!何以故?是福德即非福德性,是故如来说福德多。”

“若复有人,于此经中受持,乃至四句偈等,为他人说,其福胜彼。何以故?须菩提!一切诸佛,及诸佛阿耨多罗三藐三菩提法,皆从此经出。须菩提!所谓佛法 者,即非佛法。”

Yī fǎ chūs hēng fēn dì bā

“xū pú tí! Yú yì yún hé? Ruò rén mǎn sān qiān dà qiān shì jiè qī bǎo yǐ yòng bù shī, shì rén suǒ dé fú dé, níng wèi duō bù?”
Xū pú tí yán: “Shén duō, shì zūn! Hé yǐ gù? Shì fú dé jí fēi fú dé xìng, shì gù rú lái shuō fú dé duō.”
“Ruò fù yǒu rén, yú cǐ jīng zhōng shòu chí, nǎi zhì sì jù jì děng, wèi tā rén shuō, qí fú shèng bǐ. Héyǐ gù? Xū pú tí! Yī qiè zhū fú, jí zhū fú ā nòu duō luō sān miǎo sān pú tí fǎ, jiē cóng cǐ jīng chū. Xū pú tí! Suǒ wèi fó fǎ zhě, jí fēi fó fǎ.”

“Subhuti! Bagaimana pendapatmu, kalau seseorang memenuhi jutaan dunia dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana-amal, apakah pahala dan kebajikan yang diperolehnya banyak?”
Subhuti menjawab: “Banyak sekali, Yang Dijunjungi! Mengapa begitu? Sebab pahala dan kebajikan itu bukanlah pahala dan kebajikan sejati sifatnya, oleh karenanya Tathagatha mengatakan pahala dan kebajikannya sangat banyak.”

“Dilain pihak, jika ada seorang lainnya menerima Sutra ini dan menjalankannya dengan tekun sekalipun hanya pada 4 bait gathanya saja atau mengajarkannya kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan melebihi orang yang terdahulu. Apakah sebabnya? Subhuti, semua Buddha dan jalan yang ditempuh untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berasal dari Sutra ini. Subhuti, apa yang disebut sebagai Buddha Dharma itu pada hakekatnya bukanlan Buddha Dharma.”

Kita tahu Ven. Hui Neng mencapai pencerahan dengan belajar dari sutra Jīn gāng jīng dan dalam bab ke-8 juga dikatakan “Semua Buddha dan jalan yang ditempuh untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berasal dari Sutra ini." Betapa besar manfaat dari membacakan sutra ini, mari kita pelajari sutra ini.


Dibagikan oleh : Nava Catvarimsa Virya (四十九振) dalam Mahayana TS.
Digubah oleh : Krystella.

Tuesday, March 18, 2014

"Kasih Sayang Seorang Ibu Tanpa Batas dan Tanpa Syarat"


Alkisah, ada sepasang kekasih yang hidup saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya raya dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tersebut. Sebagai orang yang terpandang di kota tersebut, latar belakang wanita tersebut akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat patuh pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orangtuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga menjadi stress karena gagal membujuk anak satu-satunya agar berpisah dengan wanita tersebut yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang orangtua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar dan orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu, dalam hati kecilnya ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

Detik .. Menit …. Jam …. Hari …. Minggu ……Tahun …..… Tak terasa Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga. Malamnya, ia menyuci pakaian-pakaian tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.

Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari obat-obatan herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya, ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat.

Hujan lebat pun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu.

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius. Ternyata, bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan tersebut. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri 'kan?”. “Saya tidak mencuri, Kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah,” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tersebut.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab. “Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tersebut heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik,” kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”

“Tidak Bu, saya yang bersalah”

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang orangtua sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan. Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama-sama dengan Ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk Ibu. Nanti, Ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu,” teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.”

“Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi,” sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sedu “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu-satunyanya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga……….

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tersebut, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut, menangis “Ibu benar-benar tidak menginginkan saya lagi.”

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tersebut. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut anaknya dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya. Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tersebut. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tersebut untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling-guling jatuh ke bawah.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana-mana, tetapi hasilnya nihil. Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tersebut terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit. Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu.

Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”. Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tersebut saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi. Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.

=========================

Perenungan untuk kita renungkan bersama-sama :

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang-orang disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ………..

Tidak diragukan lagi “Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini”. Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ?

Ada 2 tindakan yang dapat Anda lakukan :

1. Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah ia untuk keluar makan atau jalan-jalan MALAM INI JUGA. Jangan ditunda-tunda. Bila Ibu Anda tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda, telponlah dia malam ini juga, just to say “hello”. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan, dan bahagiakanlah dia semampu Anda. Hidangkan makanan favoritnya, dan seterusnya.

2. Kirimkan kisah ini kepada saudara/i Anda, teman-teman Anda, maupun rekan-rekan kerja Anda. Bagi sebagian dari mereka, kisah ini mungkin akan seperti setetes embun yang menyegarkan jiwa mereka, yang terkadang terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Anda sungguh berjasa dalam hal ini.

Semoga Semua Ibu Di Dunia Berbahagia Selalu. _/I\_

Di Kutip Dari Artikel “Shi Sang Chi You Mama Hau”

sumber : SL-Books

世上只有妈妈好
Shìshàng zhǐyǒu māmā hǎo
Di dunia ini hanya ibu yang terbaik
有妈的孩子像个宝
Yǒu mā de háizi xiàng gè bǎo
Anak yang memiliki ibu bagaikan harta
投进妈妈的怀抱
Tóu jìn māmā de huáibào
Berada dalam pelukan ibu
幸福享不了
Xìngfú xiǎng bùliǎo

Sungguh bahagianya

Monday, August 26, 2013

Customer Adalah Raja???


Alkisah, di San Francisco, ada seorang konsultan yang heran melihat keramaian sebuah Chinese restaurant. Maka suatu hari, ia mencoba makan siang di sana. Seperti biasa, restoran itu ramai sekali dengan pengunjung.

Seorang pelayan dengan ramah menghampiri dan melayaninya, walaupun dengan bahasa Inggris yang belum fasih. Sang konsultan memesan Orange Chicken with Rice dan minuman Coke Zero. Namun pelayan tersebut berkata, “Maaf, kami sedang ada kerja sama dengan Pepsi. Jadi, tidak bisa jual produk Coca Cola di sini. Apakah dapat kami tawarkan Diet Pepsi?” Sang konsultan akhirnya minta disediakan air putih saja.


Ketika konsultan itu sedang makan, tiba-tiba ada seorang berpakaian rapi membawa Coke Zero dan es batu. “Tadi Anda menginginkan ini kan?” Sambil tersenyum, ia menyajikan minuman untuk sang konsultan, kemudian segera berlalu.

Sang konsultan minum dengan puas, lalu segera memanggil pelayan yang tadi melayaninya. Pelayan itu datang dan tersenyum melihat Coke Zero tersedia di meja tamunya itu. Katanya, “Nah, sudah ada minuman kesukaan Bapak kan..?”

"Tadi, katanya tidak ada. Ini kok ada?”
“Benar, tadi memang tidak ada. Ini baru saja kami belikan di pasar swalayan seberang.”
“Restoran sedang ramai. Siapa yang membelikan?”
“Manager kami. Dia tidak terlalu sibuk di belakang.”
“Lho, tapi kata Anda, sedang ada kerjasama dengan Pepsi.”
“Ya, kalau menjual produk Coca Cola memang tidak bisa.. Tapi kalau memberi gratis kepada pelanggan, saya kira boleh Pak,” jawabnya sambil tersenyum ramah.

Moral Cerita :
Memberi pelayanan yang baik adalah hal yang umum dilakukan semua perusahaan. Mau memberi lebih, serta melakukan hal tidak terduga, bisa menjadi kunci sukses di zaman ini.

Ciptakan kesan yang berarti, yang memberikan impresi luar biasa yang akan selalu diingat oleh pelanggan Anda, sehingga dia menjadi pelanggan setia dan merekomendasikan produk Anda kepada orang lain. Ingatlah selalu bahwa Customer adalah Raja.

Kesan yang berarti tidak hanya berlaku pada pelangan perusahaan. Hal yang sama berlalu untuk kepemimpinan, teamwork, ataupun dalam kehidupan sosial kita. Orang-orang yang mendukung kita dalam hidup, memberikan kita peluang, semangat, dan berbagi kebahagiaan dengan kita juga merupakan "customer" dalam hidup kita.

Mau melakukan hal yang lebih atau hal yang menyentuh adalah kesempatan kita untuk diingat, dicinta, dihormati, diteladani, dan diikuti oleh orang lain.

Dikutip dari "Moment of Truth" Andrie Wongso dengan perubahan.

Monday, July 29, 2013

Surat Ayah Untuk Anak Gadisnya di Masa Depan

Dr. Kelly Flanagan
Sebuah surat ditulis oleh Dr. Kelly Flanagan untuk anak perempuannya. Berharap surat tersebut akan dibaca oleh anaknya saat ia dewasa kelak.


Sebenarnya hal itu dilakukan Dr. Kelly karena gemas saja membaca tips-tips percintaan jaman sekarang, apalagi saat membaca bagaimana seorang wanita harus membuat pria selalu tertarik kepadanya. Tiba di bacaan artikel tersebut, Dr. Kelly mengambil secarik kertas dan menuangkan pemikiran ala prianya di sana. Well, kira-kira surat yang ditulis olehnya berisi sebagai berikut, seperti dikutip dari MSN dan diadaptasi sesuai dengan bahasa Indonesia.

Putriku yang tercinta,

Beberapa waktu ini kami iseng membaca beberapa artikel yang kami temukan lewat hasil searching di Google. Mata kami terhenti ketika membaca sebuah artikel berjudul 'Cara Membuat Pria Selalu Tertarik Pada Anda'. Dan hal itu terus menerus mengganggu pikiranku, karena aku begitu mengkhawatirkanmu kelak.

Sebut saja aku ayah yang over protect, tetapi hal itu membuatku marah. Membuatku tak terima, kenapa harus kamu yang bersusah payah untuk membuat orang yang mencintaimu selalu tertarik padamu?

Sayangku, kuberitahukan kepada dirimu. Bahwa bukanlah tugasmu untuk membuat kekasihmu selalu tertarik dan mengagumimu.

Tugasmu semata-mata adalah melihat ke dalam jiwamu, yang terkadang dipenuhi dengan ego, kekosongan diri, serta penolakan yang bisa membuat dirimu jadi tidak berarti. Dan kau harus bisa melawan hal-hal negatif tersebut untuk tetap menjadi dirimu lagi.

Jika kau bisa menghargai diri sendiri, dan menemukan sisi menarik di dalam dirimu, maka kau akan menjadi bunga yang selalu dikelilingi kumbang. Yang membuat semua pria tertarik dan bertekuk lutut, serta ingin menghabiskan hidupnya denganmu.

Sayangku, aku juga ingin kau tahu, bahwa pria yang pantas mendampingi dirimu adalah pria yang selalu bisa menemukan ketertarikannya padamu, tanpa kau harus repot-repot menunjukkan hal itu padanya.

Aku bahkan tidak peduli, apakah saat di meja makan nanti ia akan meletakkan sikunya di meja makan. Yang terpenting, ia haruslah menjadi pria yang selalu tak bosan memandangi wajahmu, menemukan sudut-sudut senyummu.

Aku juga tidak peduli, apakah ternyata ia bukanlah pria yang pandai bermain golf denganku. Karena bagiku yang terpenting, ia bisa menemani anak-anaknya bermain dan memberikan waktu terbaik untuk keluarganya.

Aku juga tidak peduli, kalau ternyata ia tidak memiliki penghasilan yang besar. Karena bagiku yang terpenting ia harus menjadi pria yang bisa mengikuti suara hatinya untuk selalu kembali padamu, sesibuk apapun dirinya.

Aku juga tidak peduli apakah ia pria yang kuat atau tidak. Karena yang terpenting adalah, ia punya kekuatan untuk selalu membangun cintanya di hatimu.

Aku juga tidak peduli, partai mana yang ia pilih. Karena yang terpenting, setiap ia bangun di pagi hari, ia akan selalu memilih keluarga dan dirimu sebagai tempat berlindung baginya.

Aku juga tak peduli pada warna kulitnya, karena yang terpenting ia adalah pria yang bisa melukiskan kesabaran, pengorbanan, serta kelembutan di dalam hubungan kalian.

Aku juga tak peduli, ia terlahir dan dibesarkan dari agama apa, atau bahkan ia tak pernah punya agama sekalipun, karena yang terpenting ia tahu bagaimana cara menghargai setiap momen di hidupnya bersamamu. Hanya bersamamu.

Sayangku,

Apabila kelak kau bertemu dengan pria seperti itu, dan ternyata ia tak punya ketertarikan yang sama denganku. Yang kau perlu tahu adalah, sebenarnya kami punya satu hal terpenting yang sama di hidup kami, yakni

dirimu...

Dan yang tak boleh kau lupakan adalah, satu-satunya hal yang perlu kau lakukan untuk membuatnya selalu tertarik padamu adalah selalu menjadi dirimu.

Dengan penuh cinta,

pria yang selalu menjadi pengagum abadimu,

Ayah. 




dikutip : SL-Books

Popular Posts