Pages

Monday, July 4, 2016

Jalan-jalan yuk ke Belitung - Day 1

Pulau Belitung.... yang terlintas dibenak gw pertama kali tentang Belitung adalah Laskar Pelanginya. Keinginan gw buat holiday ke Belitung juga disebabkan oleh novel Best Seller karya Andrea Hirata. Terlebih lagi setelah browsing tentang pesona pulau Laskar Pelangi ini. Akhirnya hasrat gw tercapai setelah giat menabung dan mendapat restu orang tua buat holiday di Rock Island ini bareng temen-temen kampus. Di post kali ini bakal gw pamerin pesona Pulau Belitung yang EMEIJING BINGITS!

Jalan-jalan yuk ke Belitung - Day 1

Danau Kaolin

Kalau menumpang pesawat yang terbang di pagi hingga sore hari, akan tampak danau kaolin dari ketinggian seperti lubang-lubang putih berisi air. Pemandangan yang cukup membuat mata gatal ini ternyata adalah bukti kejayaan penambangan timah dan kaolin yang dulu pernah menghidupkan Pulau Belitung dengan terang benderang. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota Tanjung Pandan dan Bandara H.A.S Hanandjoeddin.



Kota Gantung

Kota Gantung atau dalam Bahasa lokal Belitung sering disebut Kota Gantong terdapat di Kabupaten Belitung Timur. Perjalanan yang ditempuh dari kota Tanjung Pandam kurang lebih 2 jam-an. Kota Gantung sekilas terlihat biasa saja. Namun, siapa sangka bahwa di kota inilah lahir seorang maestro sastra yang membangkitkan Belitung hingga dikenal melalui karya-karya novelnya yang Best Seller. Laskar Pelangi, salah satu novelnya banyak menceritakan kota ini hingga diangkat ke layar perak sehingga menyisakan replica SD Muhammadiyah yang pernah menjadi lokasi syuting di kota ini yang sekarang menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi apabila sudah menginjakan kaki di bumi melayu belitong ini.

SD Muhammadiyah Laskar Pelangi

Tempat Parkir wisata SD Laskar Pelangi

Laskar Pelangi Masa Kini :p


Museum Kata Andrea Hirata - Museum Literatur Pertama di Indonesia

Penuh warna....itulah yang akan terlintas saat pertama kali melihat museum ini dari luar. Luarnya aja dah berwarna gini, gimana di dalam ya? Yupsss! Kece banget dah ni museum. Di museum ini kita bakal sibuk ber-selfie ria karna ada banyak spot unik dan keren buat berfoto. Pas gw kesini masih ada renovasi dan pelebaran museumnya. Dan bikin makin penasaran gmana jadinya nanti karena yang gini aja dah keren. Pasti bakal lebih keren lagi kalau sudah kelar renovasinya. For more information : http://www.museumkataandreahirata.com/






Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu
Dream for God will embrace your dreams
-Andrea Hirata-
Bendungan PICE


Artis hongkong :D


Kota Manggar, kota 1001 warung kopi

Ibukotanya Belitung Timur, kampungnya Pak Ahok, kota 1001 warung kopi, itulah istilah yang kerap disematkan pada kota ini. Kopinya punya ciri khas tersendiri. Terkenalnya Kopi O Belitong, namun karena gw tidak terlalu suka kopi item yang pekat, gw pesan aja kesukaan gw yakni kopi susu panas.
Kopi Susu Panas yang belum diaduk
Kopi Susu Panas yang sudah diaduk



Pantai Serdang, banyak terdapat perahu nelayan khas Belitung (Kater)

Pasir putihnya halus, banyak banget Katernya, pohon pinus berjejer seperti pagar alami, inilah pantainya Manggar.

Bukit Samak A1

Masih di Manggar, Bukit Samak banyak terdapat pendopo untuk sekedar nongkrong ataupun bersantai menikmati pemandangan laut dari ketinggian. Konon, Bukit Samak adalah kawasan elit bagi orang Belanda yang merupakan eksekutif perusahaan tambang timah di kota Manggar. Bangun vila disitu keren juga kali yak... view-nya laut men!
Waduh, gerimis mennnn

Klenteng Buddhayana "Dewi Kwan Im", klenteng tertua yang dibangun sejak tahun 1772 dan diresmikan pada tahun 1987.

Vihara yang letaknya dekat dengan pantai Burong Mandi ini berdiri kokoh di bukit menghadap ke laut. Altar utamanya langsung menghadap ke laut menambah khusuk umat yang bersembahyang. Di Vihara ini juga popular ciam si (salah satu cara bertanya kepada Dewa dengan cara mengocok gelas berukuran sedang yang berisi kumpulan potongan bambu).

Pantai Burung Mandi

Banyak perahu nelayan (Kater), ombaknya ramah, walau pasirnya tak sehalus pasir di pantai Serdang, dan sering dijumpai pelangi.


bersambung ke Day 2

Sunday, April 3, 2016

Jalan-jalan yuk ke Lembang

Rencana trip kali ini cukup sederhana dan ekspress. Kenapa gw bilang ekspress karena awalnya gak ada rencana holiday trip kemana pun saat liburan imlek. But I guessed it was because of the dullness during work, my dad decided to take a trip to Lembang. Yeay!!!
Gw yang ditunjuk sebagai agen travelnya hahaha. Coz semua plan gw yang disuruh siapin termasuk booking hotel dan juga memilih serta me-arrange tempat wisata yang akan disinggahi di Lembang nanti. Gw mesti berterima kasih dengan kecanggihan teknologi dan juga peran serta para netizen untuk memposting informasi-informasi yang bermanfaat bagi umat manusia, termasuk informasi travelling. Thank you guys! Love you full dahh....
First at all, gw mesti booking tempat penginapan dulu. Setelah googling dan membandingkan harga di beberapa situs hotel booking, gw memutuskan untuk memilih Bantal Guling Villa yang beralamat di Jl. Kolonel Masturi, Kampung Kramat No.1, Lembang, Jawa Barat, Indonesia lewat agoda.com. Gw baca sih reviewnya not bad dan ternyata tempatnya lumayan bagus dan tenang, recommend deh.

So, let's start the trip...

9 Februari 2016 (Tahu Susu Lembang)
Setelah kemaren sibuk merayakan imlek, hari ini adalah hari pertama trip ke Lembang, Bandung. Perjalanan selama 3 jam lebih lumayan lancar dan syukurnya tidak macet. Start dari jam 8 pagi, nyampe Lembang jam 11 lewat lah. Check-in nya jam 2 ternyata -.-".
Akhirnya kami putuskan untuk mampir dulu ke Tahu Susu Lembang, Jl. Raya Lembang No.177, Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia.
Tahu-nya lembut dan gurih. Pas dimakan saat masih hangat. Harganya juga terjangkau yakni Rp. 15.000 untuk 10 potong kecil. Tersedia juga susu kedelai, aneka snack, dan makanan khas Bandung lainnya. Tempatnya juga nyaman dan sejuk serta banyak spot keren buat foto. Rujaknya juga must try! 
Setelah makan dan berleha-hela hingga jam 2 siang, hujan mulai turun dan kami pun segera check-in. Suasana adem-adem diiringin dengan hujan yang turun serta pemandangan yang asri sungguh merileksasi pikiran.

10 Februari 2016 (Tangkuban Perahu, De'Ranch, Floating Market Lembang Bandung, Taman Bunga Begonia, Vihara Vipassana Graha Lembang, Kampung Daun)
Pagi-pagi kami dah siap-siap untuk meluncur ke Tangkuban Perahu. Pemandangan hamparan ladang sayur akan banyak ditemui selama perjalanan menuju ke Tangkuban Perahu. Semakin dekat ke Tangkuban Perahu jalanan pun semakin menajak. Sampai di gerbang masuk, kami disambut oleh penjual tiket masuk yang ramah. Pertama, kami diminta untuk menunjukan KTP karena harga tiket untuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara berbeda.
Untuk weekdays :
Domestik = Rp. 20.000
Mancanegara = Rp. 200.000
Mobil = Rp. 25.000
Motor = Rp. 12.000
Bus = Rp. 110.000
Untuk Weekends :
Domesik = Rp. 30.000
Mancanegara = Rp. 300.000
Mobil = Rp. 35.000
Motor = Rp. 17.000
Bus = Rp. 150.000
Kami memutuskan untuk mengunjungi kawah Ratu yang berada dipuncak. Cuaca pada hari itu sangat cerah dan tidak berkabut. Lucky on us, karena Tangkuban Perahu sering berkabut. Pemandangannya indah sekali.

Hanya saja, ada begitu banyak penjaja souvenir yang bertebaran. Ada 3 penjaja souvenir yang berebut untuk membantu kami mengambil foto dan bercerita mengenai Tangkuban Perahu, ntah itu cuacanya atau pun selebritis yang sudah pernah singgah. Dan pada akhirnya mereka menawarkan barang dagangan mereka hehehe. Marketingnya cukup unik dan gigih lohhh. Ntah sudah berapa banyak penjaja souvenir yang gw tolak dan terpaksa gw pamerin souvenir-souvenir yang dah gw beli dari penjaja sebelumnya yang sama dengan yang mereka jual. Setelah puas berfoto dan mengitari ujung ke ujung, akhirnya kami pun meninggalkan Tangkuban Perahu ditambah lagi kabut mulai turun.

Next, kami akan mengunjungi De'Ranch, Jl. Maribaya No. 17, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia. Mengusung tema ala cowboy, review di internet sih lumayan dan gw pikir gak ada salahnya kesini coz dd gw merengek pingin naik kuda. Tiket masuknya Rp. 5.000/ orang (dapat susu De'Ranch dengan pilihan rasa plain, coklat, stoberi, dan melon) dan parkir Rp. 5.000. Tempatnya lapang banget dan rapi.
Setelah puas berfoto, saatnya berkuda. Yeay!!! Harga kuda tunggangnya Rp. 25.000/ putaran/ orang. Sebelum berkuda, pake dulu kostumnya hihihi gratis lohhh kalo buat sewa kostumnya.

Abis dari De'Ranch, kami ke Floating Market Lembang Bandung, Jl. Grand Hotel No. 33 E, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia untuk makan siang. Harga tiket masuknya Rp. 20.000/ orang dan Rp. 10.000/ mobil. HTM lumayan juga sih karena kata orangnya masih dalam rangka liburan.
Disana transaksi jual beli di floating market-nya menggunakan koin khusus. Jadi mesti tukar dulu uang asli dengan koinnya. Ada banyak makanan yang dijual disini. Saking banyaknya ampe bingung milihnya hahaha.
Puas makan di Floating Market Lembang, kami melanjutkan ke Taman Bunga Begonia. Tempatnya rame ternyata. Dengan HTM sebesar Rp. 8000/ orang. Taman bungannya rapi dan dibuat juga spot-spot buat fotonya. Hanya saja disayangkan pada bagian petik sayur sendiri kurang terawat dan harga sayurnya lebih mahal dari harga sayur di Jakarta -.-".

Sweet Couple
Kemudian kami memutuskan untuk kembali ke villa beristirahat. Tiba-tiba gw liat penunjuk jalan menuju Vihara Vipassana Graha Lembang. Karena sejalan dengan tempat penginapan kami, jadi kami pun memutuskan untuk singgah sebentar. Vihara Vipassana Graha Lembang terletak di Jl.Kolonel Masturi No.69, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia.
 Jam 3 sore hujan mulai turun dan kami pun kembali ke villa untuk beristirahat.
Malamnya kami memutuskan untuk makan malam di Kampung Daun yang ada di Jl. Sersan Bajuri KM. 4,7, Villa Triniti, Desa Lembang, Lembang, Jawa Barat, Indonesia. Sempat nyasar karena jalanan agak remang dan juga masih gerimis serta google map yang beberapa kali lost signal hehehe.

11 Februari 2016 (Farmhouse Susu Lembang dan belanja oleh-oleh)
Hari ini adalah hari terakhir di Lembang. Setelah check-out, kami meluncur ke Farmhouse Susu Lembang. Tiket masuknya Rp. 20.000/ orang (dapat susu dengan pilihan rasa vanila, stoberi dan coklat) dan parkir Rp. 10.000/ mobil. Rame banget, asli rame banget. Dan langsung berasa ke dunia lain. Mungkin karena rame banget, tempatnya jadi berasa kecil. Coz, gw liat foto-foto di internet tempatnya kayaknya luas. Dan setelah liat aslinya ternyata gak seluas yang gw kira hehehe.
 

Setelah puas berfoto ria, kami memutuskan untuk makan siang dan belanja oleh-oleh di Tahu Susu Lembang sebelum kembali ke Jakarta.

Oke guys, demikianlah jalan-jalan ke Lembang, Bandung. Puas dan mantap abis. Tempat wisatanya gak terlalu mahal, gak semacet Puncak, tempat wisatanya juga deket-deket, makanannya enak-enak, suasananya juga menyenangkan.

Wednesday, March 9, 2016

Cinta Kasih Induk Seekor Trenggiling (Kisah Mengharukan, MUST READ!!!)


FYI, trenggiling adalah binatang pemakan serangga, terutama semut dan rayap.

Seorang pejabat Tiongkok beserta beberapa kolega, ketika bermain di sebuah kota melihat pedagang kuliner disana menyajikan proses penyembelihan trenggiling hidup sampai memanggangnya. Mereka tertarik dan ingin menyaksikan sendiri seluruh proses penyajian hidangan lezat itu.
Konon trenggiling setelah tertangkap karena ketakutan atau defensif, secara naluri dan otomatis tubuhnya akan menggulung sendiri dengan sangat erat seperti sebuah lingkaran atau bola.

Umumnya proses penjualan trenggiling sebagai berikut: 
Setelah dipilih pembeli, penjual sekuat tenaga akan menarik lurus trenggiling yang meringkuk itu. Selanjutnya dada dan perut dibelah, organ dalam dikeluarkan kemudian dicuci bersih, dijepit dengan jepitan besi dan dipanggang di atas bara api sampai semua sisik tebal di tubuhnya rontok.

Ada seorang pemuda penjual memilih trenggiling berbadan gemuk dan dengan keterampilannya siap menarik lurus trenggiling yang dipegangnya itu.
Namun walau sudah sekuat tenaga ia masih tidak mampu menarik lurus trenggiling itu. 
Orang - orang yang menyaksikan merasa heran, penjual muda itu juga kehilangan muka, maka dibantinglah trenggiling malang itu ke lantai dengan keras, sambil menjelaskan trenggiling akan membuka diri jika kesakitan.

Tidak disangka bantingan berkali - kali itu malah membuat trenggiling meringkuk lebih erat. Dari mata sipit trenggiling yg semula terlihat ketakutan telah tertutup dgn rapat. Dari moncongnya yg runcing mengalir darah segar, akan tetapi tubuhnya tidak nampak menjadi lurus. Malah terkesan semakin melingkar dengan erat.

Rombongan tidak tega menyaksikan kondisi trenggiling itu, melambaikan tangan memberi isyarat tidak ingin diteruskan lagi.

Pemuda penjual masih belum puas, diambillah jepitan besi lalu menjepit trenggiling kemudian diletakkan di atas api panggangan. Sisiknya yg keras rontok dan bau terbakar menebar luas. Tetapi posisi trenggiling tetap tidak berubah.

Pemuda penjual tidak berdaya lagi. Dia menggelengkan kepala sambil berkata trenggiling ini pasti bermasalah. Tidak layak dikonsumsi sambil membuangnya ke lahan pasir yang terletak di belakangnya.

Kemudian dipilihnya lagi dua ekor yang lain, kali ini proses pengolahan berjalan lancar dan tidak sampai 5 menit selesai.

Selanjutnya teman itu berkata, ketika temannya sedang membayar, tanpa disengaja dilihatnya trenggiling naas tadi yang di buang di atas pasir perlahan - lahan meluruskan tubuhnya, kelopak matanya terbuka sedikit, disusul beberapa kedutan lalu menjadi lurus kaku dan tidak bernyawa lagi.

Seiring tubuhnya menjadi lurus, mereka dikejutkan oleh gerakan lembut dari perut yang terkapar. Muncul seekor trenggiling kecil yang tubuhnya transparan hanya sebesar tikus. Perlahan ia membuka mulut kecilnya, seakan memanggil induknya yg sudah tak bernyawa.

Pemandangan tersebut membuat semua orang terpana. Dalam sekejap, saya merasakan darah dalam tubuh bergelora, kepala dan rambut seakan membengkak, air mata bergulir dari  kelopak.

Berat badan trenggiling itu tidak lebih dari 5 kg. Dan tubuhnya telah mengalami bantingan dan pembakaran. Tetapi sampai napas terakhirnya masih saja melindungi anaknya.

Tubuh yang telah terpanggang setengah matang, sisik pun rontok semua, namun masih tetap berhasil melindungi keutuhan jiwa dan raga anaknya.

Kekuatan semangatnya telah jauh melampaui batas kehidupan......
“Cinta kasih" induk hewan begitu mengharukan.....
Cinta kasih ibu seorang manusia terlebih menyentuh hati.
Ada yg mengatakan :
Kasih Ibu bagaikan payung, 
walau sudah rusak namun dapat melindungi dari sengatan matahari dan terpaan hujan.
Kasih ibu merupakan sebuah harapan tanpa suara, 
walau tanpa kata - kata,
namun sangat menggetarkan hati....

Ngebolang @Ragunan

Kali ini gw mau berbagi pengalaman ngebolang ala backpacker mahasiswi yang irit. Ngebolang edisi ini adalah Ragunan. Tahu Ragunan kan? Kalo gak tahu googling aja deh. Intinya Ragunan tuh kebun binatang di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 
Gw pergi berdua doang ma my bestfriend yang dah temenan sejak smp, Sarah. Sekarang ke Ragunan dah gampang. Tinggal naik busway langsung sampe depan gerbang Ragunan. Murah, nyaman, dan aman. Karena kita tinggal di daerah Jakarta Utara (gw di Ancol, Sarah di Teluk Gong), jadi kita sepakat meeting pointnya di halte busway kota pada Minggu, 31 Januari 2016; pukul 7 pagi.
Gw dah googling gmana caranya ke ragunan naik busway. Pas dibaca wuuiiii gampang tohh. Dari halte busway koridor 1 jurusan kota-blok m transit di halte busway dukuh atas 2, and then naik busway jurusan ragunan. Murah juga cuman Rp 3.500,- dah nyampe ragunan.
So, pas hari H kita capcus walau agak ngaret dikit heheheh.
Karena baru pertama kali ke Ragunan via busway dan hanya bermodal info dari internet, kita perhatiin setiap tuh setiap pemberhentian. Pas dah sampe di halte Dukuh Atas 1, kita makin pay attention tuh. Tapi kok gak kunjung nyampe ke halte Dukuh Atas 2. Tau-tau dah nyampe aja di halte blok-m. 

Blok M coyyy #nyasar -.-"
@busway
Otw Halte Dukuh Atas 2
Otomatis panik dah tuh. Googling lg dan ternyata gw salah baca info hehehe. Di koridor 1 busway kota-blok m turun di halte Dukuh Atas 1 lalu nyebrang ke halte busway Dukuh Atas 2.

Akhirnya nyampe di halte yang benar dan kita dapat bus feeder (yang bus kecil warna biru)jurusan ragunan. Teng! Jam 9 lewat 10 menit sampelah di Ragunan.
Wefie dulu di depan dinding relief
HTM Ragunan
Dan ngebolang @Ragunan dimulai!!!
Peta Ragunan
Karena kita perginya hari minggu otomatis rame. Banyak yang jual makanan, kacamata, aksesoris, topeng, tongsis, mainan anak, tikar, dan masih banyak lagi. Banyak pohon, cocok untuk berpiknik. Ada juga wahana bermain anak.
Sitatunga
Kandang Unggas
Find the peacock!!! :p
HTM Pusat Primata Schmutzer
Gorilla men!!!

Anak TK lagi study tour.... hahaha
HTM Jembatan Canopy
Jembatan Canopy

Beruang Srilanka
Ehh ada buaya darat ^o^
Hmmm, where is the komodo???
Si cantik ini jalannya anggun banget... hobi banget jalan kesana kesini...ampe pontang panting ngejer dia buat foto bareng hehehe 
Finally bisa juga foto bareng ma si cantik ini

Kenalkan namanya niko, tapir penghuni ragunan. Niko lagi sakit diare. Semoga cepat sembuh ya niko 😚

Ternyata Ragunan itu luas banget. Dari jam 9 pagi Ragunan buka ampe jam 4 sore Ragunan tutup. Ragunan ternyata luas banget -.-" Kami yang dari buka ampe tutup Ragunannya, gak sanggup mampir ke semua kandang dan wahana di Ragunan. Padahal gak pake acara santai lohhh....jalan trus jarang duduk. But, overall asik deh ngebolang @Ragunan \(^0^)/

Monday, January 11, 2016

Jodoh.... Oh.... Jodoh.... Siapakah yang Menentukan???

Dahulu ada seorang pelajar yang sudah menentukan hari pernikahannya dengan calon istri, tapi si calon istri malah menikah dengan orang lain. Tak kuat menerima pukulan ini, pelajar lalu jatuh sakit dan tidak sembuh-sembuh. Keluarganya lalu mencari tabib terkenal kemana-mana tapi semuanya tidak berdaya. Dalam sekejap si pelajar nafasnya sudah senen kemis. Hingga saat itu, ada seorang bhiksu setempat lewat, bersedia menemui si pelajar. Berdiri di depan tempat tidurnya, mengambil sebuah cermin dan menyuruhnya melihat.... Pelajar melihat laut lepas, sebuah mayat perempuan telanjang terbaring di pantai. Orang pertama lewat, melihatnya,  geleng-geleng kepala, lalu pergi. Orang kedua lewat, membuka bajunya, menutupi mayat perempuan tersebut, lalu pergi. Orang ketiga lewat, menggali lubang,   dengan sangat hati-hati mengubur mayatnya. Dalam keraguan, pemandangan dalam cermin berganti.... Pelajar melihat calon istrinya, dalam suasana pesta kawin hingga saat penutup kepala diangkat oleh  suaminya....   Pelajar tidak dapat melihat dengan jelas maka Bhiksu menjelaskan,  "Mayat prempuan yang ada di pantai itu,  adalah kehidupan lalu calon istrimu.  Kamu adalah orang kedua yang lewat itu, yang memberi dia pakaian, dia jatuh cinta pada kamu dalam kehidupan saat ini hanya untuk membayar kembali cinta kamu. Orang yang akan dia balas budinya seumur hidup itu, adalah orang terakhir yang menguburnya, orang itu adalah suaminya saat ini." Pelajar menjadi sadar,  terduduk dari tempat tidurnya, penyakitnya sembuh! 
Jodoh – tidak boleh dipaksakan. Apa yang seharusnya milikmu, cepat atau lambat tetap milikmu; yang bukan milikmu, biar kerja keras bagaimanapun, juga tidak akan dapat. Tetapi biar kapan pun, jangan pernah melepaskan pencarian kamu terhadap yang sejati, baik dan indah serta nilai kehidupan manusia. Dunia ini, bila dibilang besar ya besar dibilang kecil ya kecil. Meski kau dan aku sudah mempunyai janji di kehidupan lalu, tetap harus pakai hati untuk mencarinya. Aku sangat peduli bahwa kamu adalah temanku, sangat menghargai, sangat menghargai ---kamu. Aku jarang menelpon kamu... bukan berarti .....tidak memikirkan kamu, tapi khawatir mengganggu kamu yang sedang sibuk. Maka itu aku sering mengirim pesan chat kepada kamu,  melambangkan adanya jodoh di setiap pengiriman karena aku senantiasa peduli pada kamu. Di dalam hati sanubariku, selalu ada suatu perasaan, rasa haru dan rasa bersyukur. Aku ingin bersama kamu berbagi karangan ini,  karena kamu adalah temanku. Mengirim kabar menggembirakan, menerima kabar membahagiakan, berbagi adalah suka cita,  bersedia berbagi dengan kamu, menikmati indahnya hidup ini!

Boneka Lily

Dari dalam toko mainannya, seorang pria tua yang biasa dipanggil Tuan Oeng oleh para pelanggannya menatap seorang gadis berseragam putih-merah yang sedang terpaku di depan kaca etalase toko. Sudah dua minggu ini di waktu yang sama, yaitu pukul 13.15, gadis itu selalu berdiri di depan etalase toko.
”Bisa aku bantu?” tegur Tuan Oeng tersenyum ramah. Gadis itu menoleh ke arah Tuan Oeng kemudian mengetuk kaca etalase. ”Berapa harga Lily?” tanya gadis itu kemudian.
Tuan Oeng menoleh ke arah etalase dan menemukan sebuah boneka bergaun ungu yang ditunjuk oleh gadis berkepang dua itu.
”Lima puluh ribu rupiah,” jawabnya singkat.
”Mahal, ya...” ujar gadis itu terdengar seperti menggumam. Ia kemudian melangkah meninggalkan toko dan pemiliknya.
Keesokannya, Tuan Oeng kembali menemukan gadis kecil itu terpana di depan etalase. Matanya bergeming dari Lily yang telah dipajang sejak dua minggu lalu. Kali ini Tuan Oeng tak menegur. Ia membiarkan saja gadis itu menatap Lily sampai puas.
Sampai di suatu Minggu, Tuan Oeng melihat gadis itu datang bersama seorang anak laki-laki yang lebih kecil. Keduanya mengendarai sepeda dan memarkir sepeda tepat di depan etalase toko. Terlihat raut gembira di wajah gadis itu.
”Selamat datang. Ada yang bisa dibantu, Nak?” sambut Tuan Oeng.
Kedua bocah itu adalah pembeli pertama di hari itu.
”Saya ingin membeli Lily,” ujar gadis itu mantap.
Tuan Oeng tersenyum. ”Apakah kau meminta orangtuamu untuk membelikannya?” tanyanya.
Gadis itu menggeleng. ”Tidak, Pak. Saya memecahkan celengan yang sudah saya isi sejak setahun.
Tuan Oeng terpana memandang gadis kecil yang mulai berceloteh bangga itu.
”Walaupun hanya memiliki empat puluh ribu dari uang celengan saya, Ayah memberi uang dua puluh ribu untuk menutupi kekurangannya.”
Tuan Oeng mengangguk mengerti. ”Berarti kau sudah tak punya tabungan lagi, ya?”
Gadis itu mengangguk. "Kali ini iya, tetapi mulai besok saya akan makin rajin menabung. Itu sebabnya ayah melebihkan sepuluh ribu agar saya dapat membeli celengan baru."
Tuan Oeng mengacungkan kedua jempolnya tanda bangga. "Hebat!" Ujarnya.
Sesaat kemudian transaksi berlangsung. Gadis kecil menulis alamat dan nomor telp.
"Bisakah Bapak membungkus Lily dengan rapi?"
"Tentu. Untuk gadis kecil yang rajin menabung, Bapak akan bungkus dengan kotak cantik berwarna ungu."
Ketika sedang membungkus Lily, Tuan Oeng memerhatikan kedua bocah tadi berada di depan rak mainan tentara.
"Aku akan menabung seperti kakak agar bisa membeli paket mainan tentara ini, "ujar bocah lelaki itu kepada kakak perempuannya.
"Kamu suka, ya?" Tanya gadis kecil itu kepada adiknya.
"Iya. Hampir semua teman-temanku memilikinya. Namun, mana mungkin ayah membelikannya untukku," nada bocah lelaki itu terdengar kecewa.
"Ayah kan pernah bilang kepada kita, jika kita menginginkan sesuatu kita harus berusaha sendiri.
Bocah lelaki itu mengangguk.
"Aku akan berusaha keras seperti kakak! Aku akan menabung."
"Sebaiknya kau menabung dengan cepat," timpal satu anak buah Tuan Oeng, masuk ke dalam percakapan.
"Paket mainan tentara itu edisi terbatas dan tidak diproduksi lagi. Di toko ini bahkan hanya tinggal dua paket."
Raut wajah bocah lelaki itu berubah kecewa. "Benarkah? Yahh... "
Beberapa saat kemudian kedua bocah itu sudah melangkah keluar toko. Namun gadis kecil itu datang kembali ke toko sendirian. Ia membawa sebuah kotak berwarna ungu.
"Maaf pak. Bolehkan saya menukar Lily dengan satu paket tentara edisi terbatas itu?" ujar gadis itu.
Tuan Oeng terkejut & terbengong sejenak. "Kenapa kau mau menukarnya?"
"Saya tidak tahu kenapa saya sedih setelah mendapatkannya. Mungkin karena saya takut adik saya tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Sepertinya ia masih terlalu kecil untuk menabung cepat."
Tuan Oeng tersenyum. Ia merasa gadis di depannya sudah dewasa. Padahal gadis itu dan adiknya sama-sama masih kecil. Transaksi penukaran berlangsung. Harga miniatur tentara lebih murah sepuluh ribu rupiah daripada harga Lily.
Ketika gadis itu keluar, Tuan Oeng sibuk menulis sesuatu di atas kertas. Selesai menulis ia memanggil anak buahnya, "Kirimkan kotak ungu ini ke alamat gadis kecil tadi. Ini alamat dan nomor telp."
Anak buah Tuan Oeng membaca isi kartu :
"Untuk seorang kakak yang murah hati dan rajin menabung.
Tertanda Tuan Oeng.
Dari TOKO HATI."
Nah sobat,
Jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha sendiri, semua itu berasal dari diri kita sendiri.
Seperti kita mencari pekerjaan atau mencari jodoh. Bila kita tidak berusaha mana mungkin bisa mendapatkannya dengan GRATIS..
~~~~~~~~~~
SeMOGa BerManfaat.
SALAM KEBAJIKAN.
Sumber : Kebajikan 德

Monday, October 19, 2015

Amitabha Buddha / 阿弥陀佛



Kita mengenal adanya Amitabha Buddha / 阿弥陀佛 berdasarkan sabda Sakyamuni Buddha yang tercatat dalam kitab suci, antara lain: Amitayurdhyana Sutra, Maha Sukhavativyuha Sutra, Sukhavativyuha Sutra, dan sutra-sutra lainnya. Sutra ini merupakan sutra pokok bagi agama Buddha Mahayana aliran Sukhavati / Ching tu / Vimalaloka / Tanah Suci. Amitabha Buddha dikenal juga dengan nama Amita Buddha, Amida Butsu (Jepang) Amitohud / Amituofo (China) atau Amitayus Buddha (sansekerta) yang artinya terdiri dari tiga suku kata:

A         : tidak

Mita    : ukuran

Abha  : cahaya atau ayus : kehidupan

Jadi Amitabha artinya cahaya yang tak terukur/ cahaya tanpa batas, (berkaitan dengan konsep ruang) sedangkan Amitayus artinya kehidupan tanpa batas (berkaitan dengan konsep waktu). Amitabha mengandung falsafah Beliau yang telah mengatasi ruang dan waktu, lambang cinta kasih, berkah karunia dan kebijaksanaan yang tak terbatas.

Di dalam Maha Sukhavativyuha Sutra dikatakan bahwa sebelum menjadi Buddha Amitabha, dulunya Beliau adalah seorang bhiksu bernama Bhiksu Dharmakara, yang hidup dijaman Buddha Lokesvararaja, Beliau telah mengikrarkan 48 prasetya agung/ janji suci tentang negeri Buddha-Nya yang akan terwujud apabila Beliau mencapai pencerahan sempurna (Anuttara Samyaksambodhi).

Dari sabda Sakyamuni Buddha kita mengetahui bahwa Bhiksu Dharmakara telah mencapai pencerahan sempurna, dikenal sebagai Amitabha Buddha/ Amituofo dan surganya bernama Sukhavati (kebahagiaan yang luhur) atau Tanah Suci (Pure Land, Ching Tu, Vimalaloka) yang letaknya di sebelah barat dari dunia saha.

Di dalam vihara aliran Sukhavati, banyak dijumpai gambar atau rupang Amitabha Buddha yang diapit oleh Boddhisattva Avalokitesvara (sisi kiri) dan Boddhisattva Mahastamaprapta (sisi kanan). Kadang dilukiskan bersama dengan 25 Boddhisattva Mahasattva pengikutnya.

Untuk menghormati dan mengikat jodoh dengan Amitabha Buddha, sesuai dengan prasetyanya yang ke 18 s/d 20, maka dianjurkan kepada semua makhluk untuk membaca berulang-ulang Namo Amituofo dengan gembira dan penuh rasa sujud serta pikiran, perasaan dan perbuatan terkonsentrasi dalam alunan pujian Namo Amituofo.

Janganlah Anda berpikir bahwa melakukan pengucapan Namo Amituofo adalah suatu hal yang mudah, hanya apabila rintangan karma buruk kita tidak terlalu besar, barulah itu mudah kita ucapkan. Mereka yang memiliki rintangan karma buruk berat, tak akan dapat mengucapkannya walaupun mereka ingin melakukannya. Contoh : Devadatta, ia hanya mampu mengucapkan “Namo” saja, rintangannya karma buruknya besar sehingga tak mampu mengucapkan kata “Buddha”.

Di dalam Amitabha Sutra/ 佛說阿彌陀經, Hyang Buddha bersabda kepada Sariputra :

舍利弗。若有善男子。善女人。 聞說阿彌陀佛。執持名號。 若一日。 若二日。 若三日。 若四日。 若五日。 若六日。 若七日。 一心不亂。 其人臨命終時。 阿彌陀佛。 與諸聖眾 現在其前。 是人終時。 心不顛倒。 即得往生阿彌陀佛極樂國土。

shè lì fú。 ruò yǒu shàn nán zǐ。 shàn nǚ rén。 wén shuō āmítuófó。 zhí chí míng hào。 ruò yī rì。 ruò èr rì。 ruò sān rì。 ruò sì rì。 ruò wǔ rì。 ruò liù rì。 ruò qī rì。 yī xīn bù luàn。 qí rén lín mìng zhōng shí。āmítuófó。 yǔ zhū shèng zhòng xiàn zài qí qián。 shì rén zhōng shí。 xīn bù diān dǎo。 jí dé wǎng shēng āmítuófó jí lè guó tǔ。

"Sariputra, jika terdapat pria atau wanita berbudi luhur, mendengar nama Buddha Amitabha, lalu merenungkan dan melafalkan nama-Nya dalam batin selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari. Dengan hati yang tidak bimbang, pada saat menjelang akhir hidupnya, Buddha Amitabha beserta para Boddhisattva Mahasattva akan muncul di hadapannya. Pada saat meninggal dunia, hatinya tidak kacau dapat terlahir di Alam Sukhavati Negeri Buddha Amitabha." 

Mari kita bersama-sama mengikat sebab dan jodoh untuk terlahir Sukhavati, dengan sering mengulang pujian “Namo Amituofo”. 

Artikel sebagian di ambil dari buku perjalanan kematian yang disusun oleh: YM. Maha Bhiksu Dutavira Sthavira.


Dibagikan oleh : Nava Catvarimsa Virya (四十九振) dalam Mahayana TS.

Digubah oleh : Krystella.

Popular Posts